3 Langkah Nyata Wujudkan Budaya Baca Keluarga

Entah berapa kali aku dibuat jatuh cinta olehnya.
Setiap kali aku melihatnya, hati serasa berdebar dan muncul rasa penasaran.
Ingin kudekati dan kucari apa isi hatinya. 
Ia yang selalu membuatku merasakan bahagia tanpa syarat.
Hanya cukup duduk berdua dengannya dan larut dalam cerita yang dikarangnya.
Maaf bila selama ini aku sering menduakanmu dengan yang lain.
Barangkali kamu iri dan bertanya
 “Mengapa selalu dia, makhluk kotak yang bersanding di tanganmu dan selalu kau peluk. Tidakkah kau rindu padaku?”
Aku sangat rindu untuk kembali mesra berdua denganmu dan menikmati cerita pada tiap barismu. 
Bantu aku kembali pada kecintaanku dulu padamu. 
Buku, maafkan aku sering acuh padamu dan justru lebih suka bermesraan dengan gawai. 
Doakan mulai hari ini, aku lebih sering bermesraan denganmu buku. 
Aku selalu jatuh cinta dengan benda mungil bernama buku. Kala hati gelisah dan bad mood melanda, buku selalu menjadi teman terbaik yang menemani. Pergi ke toko buku pun menjadi sarana refreshing bagiku. Sedihnya semenjak akrab dengan gawai bernama smartphone, aku hampir kehilangan waktuku bersama buku. Padahal apa yang kulakukan di gawaiku tak terlalu begitu penting. Hanya scrolling status teman-teman. Coba seberapa faedahnya hal itu? Iya memang tak melulu scrolling status, aku pun dapat ilmu baru dengan memanfaatkan gawaiku. Namun entah mengapa aku jadi rindu beradu mesra dengan buku. Pengalaman membuka lembar demi lembar dengan jari jemariku membuatku rindu. 
Setiap aku pergi kemanapun barang wajib yang ada di tasku adalah buku. Bahkan kebiasaanku ketika pergi kemana-mana adalah menenteng buku. Aku biarkan anggapan tentang kutu buku. Aku suka menjadi pecandu buku karena buku benar-benar membawaku ke dunia yang sama sekali belum pernah aku sentuh. 

Bila aku memiliki keluarga maka satu misi terbesarku adalah menjadikan keluargaku para pecandu buku yang arti lugasnya adalah para pecandu ilmu. 

Alhamdulillah aku disatukan dengan suami yang sama-sama mencintai ilmu. Bahkan tagline keluarga kecil kami adalah

Iman, Ilmu dan Sejahtera

Tantangan kali ini tentang stimulasi budaya baca membuatku bersemangat. Ada tiga langkah nyata yang aku lakukan dan berdasar dari ilmu yang didapat dari kuliah bunda sayang. Tiga langkah itu adalah sebagai berikut:

  •  Menentukan Reading Time
Malam ini aku berdiskusi dengan suami, kapan ya waktu reading time kita? Setelah melihat kebiasaan yang kami jalankan maka waktu reading time kita adalah setelah sholat isya hingga waktu menjelang tidur kurang lebihnya pukul sembilan atau sepuluh malam.
  • Menentukan To Do Read
Bismillah, insya Allah untuk tanggal 8 hingga 24 Agustus buku-buku di atas adalah yang akan kami baca. Untuk si janin berhubung belum bisa baca otomatis orang tuanya yang akan membacakannya. 
  • Membuat Reading Tracker
Hal yang menarik kali ini adalah membuat reading tracker jadi bisa terpantau nih, hari apa saja kita membacanya. Untuk Hari Kamis, 8 Agustus 2019 buku pertama yang aku baca adalah novel karangan Tere Liye yang terbaru berjudul Si Anak Badai. Hari ini aku baru membaca satu bab dan aku ceritakan kembali pada suami. Bab pertama cerita tentang mimpi seorang anak bertemu bajak laut yang ternyata itu hanya mimpi. Ketika aku bercerita pada suami, suami sudah mendengarkan dengan seksama namun akhirnya kaget karena cerita bertemu bajak laut itu hanyalah mimpi si tokoh dalam novel ini. 
Sedangkan hari ini buku yang suami baca adalah buku scale up tentang bagaimana membesarkan bisnisnya. Jadi aku buatkan reading trackernya sebagai berikut:
Nah untuk si janin maka yang sedang aku usahakan adalah bisa khatam Al-Quran. Doakan ya
Nah, itulah tiga langkah nyata yang bisa digunakan untuk menumbuhkan budaya baca dalam keluarga. Semoga bisa istiqomah. 
    0 Shares:
    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    You May Also Like