3 TIPS ANTI BAPER MENGHADAPI KRITIKAN DAN OMONGAN ORANG LAIN

“Jangan pedulikan kritik. Jika itu tidak benar, abaikan. Jika itu tidak adil, jangan terusik. Jika itu bodoh, tersenyumlah. Jika itu benar, itu bukanlah kritik, maka belajarlah dari hal tersebut.” ~ Mark Twain

Kutipan diatas sangat mendinginkan hati dan pikiran yang sempat terpanasi oleh nyinyiran omongan orang lain atas diri kita, keluarga kita atau hal yang berhubungan dengan kita.

Tulisan ini dibuat untuk memberi kelegaan hati pada mereka yang tengah dikritik ataupun dinyinyirin oleh orang lain.

Ingat sebuah pernyataan mulutmu harimaumu? Lidah lebih tajam dari pisau? Nyatanya pernyataan itu memang benar adanya. Banyak orang yang sakit hati, sakit fisik bahkan ada yang mengakhiri hidupnya hanya karena ucapan yang keluar dari mulut seseorang.

Kalau dalam islam ada hadits yang memang sudah mengantisipasi hal ini. Bahkan seorang muslim dikatakan sempurna apabila bisa menjaga lisan dan tangannya untuk tidak menyakiti saudara muslim lainnya. Haditsnya berbunyi sebagai berikut:

 “Seorang muslim adalah yang membuat muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40 )

Dalam islam dikatakan bahwa yang paling sering memasukkan manusia ke dalam neraka adalah karena ulah mulut dan kemaluannya. Sebagaimana yang tertuang dalam hadits berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Tapi kok kenapa ya masih ada orang yang masih sering menyakiti orang lain dengan lisannya? Baik berupa kritik yang tidak membangun ataupun nyinyir dengan kehidupan orang lain?

Mengapa Masih Ada yang Suka Mengkritik atau Nyinyir dengan Kehidupan Orang Lain?

Mari kita analisis bersama mengapa masih ada saja orang yang suka mengkritik namun kritikannya itu menyakiti hati orang lain?

Memang sepanjang kita berinteraksi dengan orang lain, kita tak akan terlepas dari omongan orang lain tentang kita.

Ingatkah kamu tentang panutan sepanjang zaman? Manusia paling mulia di dunia ini? Ya, beliau Rasulullah Sallallahu’alaihi wa salam dengan akhlaknya yang bisa dikatakan paling bagus saja masih mendapat kritikan dan omongan dari orang lain. Malah lebih sadis lagi, ada yang karena tidak sukanya mereka bahkan berani melempar kotoran pada beliau hingga ada yang berani berniat untuk membunuhnya.

Apalagi dengan kita manusia biasa? Pasti hidup kita tak lepas dari omongan orang lain. Jadi, woles aja yuk.

Sebelum kita masuk tentang alasan orang suka mengkritik orang lain maka kita harus cari tahu dulu apa arti kritik sebenarnya. Kalau menurut buku yang aku baca, kritik itu adalah penilaian seseorang terhadap hasil kerja kita, prestasi ataupun watak kita. Kritik ada yang bersifat membangun adapula yang bersifat tidak membangun.

Kritik yang membangun tidak hanya memberikan kritik namun memberikan saran perbaikan ke depannya. Biasanya kritik yang diberikan bersifat objektif dan detail.

Berbeda dengan kritik yang destruktif, kritik ini hanya merupakan penilaian subjektif dan terlalu umum. Biasanya didasari oleh rasa tidak suka dan kritik ini tidak menawarkan solusi perbaikan.

So, kita harus pilah-pilih omongan orang yang masuk ke telinga kita.

Oke, balik lagi ya kenapa masih ada orang yang suka membicarakan orang lain. Menurut analisis sederhanaku adalah karena beberapa alasan sebagai berikut:

1.      Tabiat Manusia yang Suka Berkeluh Kesah

Apa hubungannya mengeluh dengan membicarakan kehidupan orang lain? Ada dong hubungannya. Jadi sudah sangat jelas Allah nyatakan dalam firmannya pada surat Al Ma’arij ayat 19-21 yang artinya adalah sebagai berikut:

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah dan apabila mendapat kebaikan dia menjadi kikir.” (QS. Al-ma’arij: 19-21)

Makanya kita sebagai manusia diminta untuk selalu bersyukur atas apapun nikmat yang Allah berikan pada kita.

Nah, menurutku orang yang suka membicarakan orang lain berawal dari tabiat manusia ini. Dengan seseorang sering berkeluh kesah akan hidupnya maka ia akan memandang segala sesuatu dari sudut pandang negatif.

Ketika berinteraksi dengan oranng lain maka yang dominan terlihat adalah sisi negatifnya. Sehingga wajar saja keluar kritik.
Untuk meminimalisir tabiat berkeluh kesah maka ada dua kuncinya yakni sabar dan syukur. Bila ditimpa hal yang tidak kita sukai maka kita bersabar dan apabila mendapat hal yang kita sukai maka bersyukur.

2.      Perbedaan Prinsip, Nilai dan Sudut Pandang
Coba deh sehari saja kamu menginap di tempat teman atau saudaramu? Amati dan rasakan apakah kebiasaan di tempat teman atau saudaramu dari bangun tidur hingga tidur lagi sama dengan kebiasaan di rumahmu?

Jawabannya tentu tidak. Ini memang alamiah. Setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda dalam hal tertentu. Misalkan dalam rumah si A kalau ingin sarapan harus mandi dulu namun di rumah si B justru kebalikannya.

Setiap orang memiliki prinsip, nilai dan sudut pandang yang berbeda terhadap suatu hal, kejadian ataupun kebiasaan. Sekaliun orang tersebut adalah anak kembar.

Perbedaan nilai, prinsip dan sudut pandang ini wajar hukumnya. Hanya saja tergantung karakter masing-masing orang. Ada yang tak mau tahu tentnag sudut pandang orang lain sehingga gampang saja bagi orang tersebut untuk mengkritik orang lain.

Kalau kamu lagi dikritik tentang sudut pandangmu maka jangan gampang baper, karena barangkali orang yang memberimu kritik itu punya sudut pandang lain.

3.      Kebiasaan Suka KEPO
Nah ini, alasan yang bagiku paling mayoritas mengapa orang suka mengkritik orang lain. Karena mereka suka mengetahui urusan orang lain.

Padahal dalam islam bila agama kita ingin sempurna maka kita perlu berlepas diri dari urusan orang lain.

Semakin kita tak mengetahui urusan orang lain maka semakin bahagia hidup kita. Namun dengan adanya sosial media seperti sekarang ini, seakan kita secara tidak langsung diajak menjadi kepo akan urusan orang lain.

Jadi, yuk kurang-kurangi kepo dengan hidup orang lain.

Tiga hal tersebut yang menurutku menjadi alasan mengapa orang suka berghibah (membicarakan orang lain) dan mengkritik orang lain.

Oke, setelah kita menganalisis alasan orang suka membicarakan kehidupan orang lain maka kita lanjut ke tips bagaimana agar kita tidak mudah baper akan kritikan orang lain.

Untukmu yang lagi baper dengan kritikan orang lain yuk terapkan beberapa tips berikut biar kritikan tak membuat hidupmu nelangsa.

      1.      Dengarkan dengan Tenang
Kalau ada orang yang mengkritik kamu, nyinyirin hidup kamu, ghibahin kamu, saranku adalah dengarkan dengan tenang. Kalau kata orang semarang, woles aja :D.
Dengarkan dengan kepala dan pikiran yang dingin meski kata-kata kritikan yang dilontarkan itu membuat hati dan pikiranmu panas. Dengarkan dengan tenang dan jangan lakukan apapun, apalagi membalas kritikannya dengan kritikan pedas juga.
Kalau kamu langsung bereaksi saat itu juga maka kemungkinan besar akan berakhir pada pertengkaran yang berkelanjutan.

       2.      Responlah dengan Tegas

Sebel sih memang kalau dikritik namun ternyata orang-orang sukses disana selalu minta untuk dikritik loh.
Mereka selalu meminta kritikan atas setiap karya dan kinerjanya. Mereka selalu bertanya, “Apa yang perlu diperbaiki?”
Memang kita tidak bisa mengkontrol kritik apa yang akan dikeluarkan orang lain. Ada yang mengeluarkan kritikan membangun namun juga ada yang melontarkan kritik yang tidak membangun juga. Kuncinya ada pada respon kita.
Ada beberapa respon yang biasanya orang lakukan ketika mendengarkan kritikan.
Respon Agresif : Ketika mendengar kritikan kamu marah dan menyerang balik dengan kritikan yang tak kalah pedas.
Repon Pasif : Kamu sebenarnya marah akan orang yang mengkritik kamu namun daripada menimbulkan konflik maka diam adalah pilihanmu. Namun dibalik diammu kamu menyimpan dendam dan membicarakannya pada orang lain.
Respon Pasif – Agresif: Kamu marah dan membicarakan orang tersebut di belakangnya.
Respon Tegas : Kamu mengungkapkan apa yang kamu rasakan pada orang yang melontarkan kritik.

Coba selama ini ketika kamu mendengarkan kritik, bagaimana responmu? Respon agresif, pasif , pasif-agresif atau tegas. 

Memang berat ya untuk respon tegas namun daripada kamu pendam justru menimbulkan kebencian akan orang tersebut. 

     3.      Lihat Apa yang Jadi Bahan Omongan atau Kritikannya
Nah ini kaitannya dengan respon. Kalau kamu memutuskan untuk mereson tegas maka sebelum kamu mengungkapkan perasaanmu pada orang yang memberi kritik maka ada baiknya kamu melihat apa yang jadi benang merah omongannya.
Apakah hal yang dibicarakan bersifat given atau hal yang bisa diubah?
Hal yang bersifat given adalah hal yang bersifat pemberian dari Allah, seperti latar belakang keluarga, ekonomi, agama, ras dan lain sebagainya. 

Bila yang dibicarakan adalah hal yang bersifat pemberian maka hal yang bisa kamu lakukan adalah berdamai dengan kondisi tersebut dan bersyukur. Biarkan saja mereka terus membicarakanmu.

Nah, kalau hal yang dibicarakan adalah yang sifatnya bisa dirubah maka pertama, lihat substansinya atau inti pembicaraannya. Dengarkan kritikan yang benar-benar berasal dari orang yang berpengalaman dan benar-benar tahu dengan apa yang dibicarakan.

Kedua,  apakah kritikan tersebut bersifat konstruktif (membangun) atau desruktif. Kritik konstruktif datang dari orang yang benar-benar peduli dengan kita. Mereka mengkritik secara langsung dengan kita dan memberikan kita kesempatan untuk mendengar sudut pandang kita.
Sedangkan kritikan desruktif merupakan kritikan yang berasal dari rasa tidak senang atau cemburu. Mereka mengkritik tanpa memberikan solusi.

Nah, itulah tiga tips sederhana agar kita tidak baper dengan kritikan atau omongan orang lain.

Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini maka bila ada kritikan santuy saja.

Tak semua perkataan orang harus kita masukkan hati dan kita turuti. Kita perlu memilih mana kata-kata yang perlu kita tindak lanjuti.

Allah dan Rasul-Nya saja tak lepas dari kritikan, hinaan, cacian manusia apalagi kita.

Seringkali orang yang mengkritik kita itu sedang menggambarkan tentang dirinya sendiri. Beberapa kali aku merasakan hal ini. Misalkan kita dibilang cuek padahal sebenarnya orang itu yang cuek.

“Hal yang sering kita keluhkan pada diri orang lain adalah hal-hal yang tidak kita sukai pada diri kita.” ~ William Wharton

Yuk move on dari omongan orang lain. Waktu kita terlalu berharga untuk kita habiskan dengan energy negatif yang datang dari omongan orang lain. Mari kita fokus pada apa yang bisa kita kontrol.


0 Shares:
2 comments
  1. Tulisannya menarik, mba. Aku mungkin termasuk yang respons pasif ya, tapi karena aku cuek juga. Aku ga suka kepoin orang lain dan ga gitu nanggepin orang lain. Cuek ini ada plus minusnya juga. Plusnya ya karena nggak gampang terpengaruh, tapi minusnya jadi terkesan dingin/ga empati, hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like