5 Cara Sederhana Dukung Program Langit Biru untuk Langit Indonesia yang Tetap Biru

“Jadwal penerbangan ke Riau ditunda, Pak, sampai batas waktu yang belum ditentukan.” lapor seorang laki-laki yang biasa mengurusi akomodasi kepresidenan. 
Tak ada raut muka yang memerah padam, justru muka nelangsa yang ditunjukkan orang nomor satu di Indonesia tahun 2050 ini. Beliau segera memandang jendela yang ada di balik kursi kerjanya dan awan gelap telah bergelayut, bukan tanda turun hujan, tapi karena kondisi udara yang sudah parah ditambah dengan adanya kebakaran hutan yang lagi-lagi melanda Pulau Sumatera itu. 
“Baiklah, tak apa.” jawab Pak Presiden singkat. Rencananya Pak Presiden akan berangkat meninjau lokasi kebakaran hutan di sana. Namun, karena kondisi udara yang tidak memungkinkan membuat jadwal penerbangan ditunda.

Sebuah Cerita di Bumi Indonesia Tahun 2050

Kebakaran hutan yang melanda Riau sejak dua hari lalu telah membuat kondisi dan kualitas udara semakin parah. Pada hari dimana tidak ada kebakaran warga sudah sering merasa susah payah karena langit yang sudah tak biru dan penuh dengan emisi karbon dioksida terlebih dengan kondisi sekarang ini warga lebih merasa susah payah. 

Warga sekarang dilarang untuk keluar rumah. Bantuan-bantuan logistik akan segera disalurkan pada warga. Penderita infeksi saluran pernapasan semakin meningkat bahkan setengah diantaranya tidak tertolong.

Suara penyiar berita sebuah stasiun televisi nasional kebanggaan Indonesia memberikan kabar terkini terkait kondisi di Riau sejak sekarang ini. 
“Segera lakukan apa yang bisa lakukan dan utamakan keselamatan warga.” perintah Pak Presiden langsung pada rekan kepercayaannya di seberang telepon sana. 
“Aku sungguh heran, baru saja aku mendapatkan amanah besar memimpin negeri ini, masalah lingkungan sungguh muncul dengan tiba-tiba dan begitu masifnya.” 
“Hal ini sudah diprediksikan tuanku, Pak Presiden, bahwa tahun 2050 kondisi bumi tak baik-baik saja. Langit yang biasa kita pandang berwarna biru nan indah kini berwarna abu-abu layaknya kabut yang berisi karbon dioksida. Kualitas udara akan semakin parah, panas bumi meningkat, kekurangan air terjadi di mana-mana, dan prediksi itu memang terjadi hari ini.” tanggap sang ajudan presiden. 
“Kalau mereka sudah memprediksi hal tersebut, kenapa mereka tak mencegahnya?” 
“Mereka bukan tak mau mencegahnya tuanku, mereka sudah bahkan telah melakukan pencegahan. Bahkan negara-negara di dunia bersatu padu membuat Paris Protocol on Climate Change pada tahun 2015  yang mana Indonesia juga turut ikut serta menandatanganinya dengan komitmen untuk mengurangi gas karbon antara 20-40%.” 
“Wah, tahun 2015 aku belum lahir dan aku belum tahu akan hal ini.” tanggap Pak Presiden yang usianya masih sangat muda yakni 30 tahun sedangkan sang ajudan hampir berusia 60 tahun. 
“Kalau mereka sudah sepakat mengurangi gas karbon, mengapa Indonesia tetap menjadi separah ini?” tanya Pak Presiden lagi pada ajudannya.
“Nah, itulah masalahnya. Tak mudah tuanku menerapkan kebijakan mengurangi gas karbon. Untuk negara kita sendiri komitmen akan Paris Protocol menjadi sulit terwujud karena masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM) yang belum memenuhi standar Euro, PLTU masih marak di mana-mana, kendaraan pribadi bertambah terus setiap tahunnya. Ah, sungguh komitmen tersebut berbanding terbalik dengan kondisi lapangan.” sang ajudan berhenti bicara sejenak untuk membasahi kerongkongannya. 
“Mari kita bicara dulu tentang BBM, beruntung sekali di tahun 2050 ini negara Indonesia di bawah pimpinan Bapak sudah menggunakan BBM standar paling tinggi dengan harga yang bisa dijangkau masyarakat. Jadi, dulu Indonesia punya tiga jenis BBM yakni Premium, Pertalite, dan Pertamax. Orang-orang lebih menyukai Premium yang murah, tapi sayangnya masih sangat jauh dari standar Euro. Semakin banyak yang menggunakan Premium semakin lingkungan kita tercemar.”
“Ya, memang saya setuju sekali bahwa bahan bakar yang kurang memenuhi standar dengan nilai kadar oktan rendah akan menghasilkan emisi yang tinggi dan tentunya ini menjadi tidak ramah lingkungan. Karena tahu hal itu, saya menginstruksikan semua SPBU di Indonesia baik kota dan daerah untuk hanya menjual bahan bakar yang berkualitas.”
“Nah, sebenarnya pemerintah Indonesia saat itu sudah mulai ingin berganti dari Premium ke Pertalite atau Pertamax, bahkan peredaran Premium sudah mulai ditiadakan. Sayangnya mendekati lebaran tiba-tiba muncul kembali. Entah ini intrik menjelang bulan Ramadhan atau karena permainan politik saja. Sehingga, kebijakan pemerintah cenderung terkesan plin-plan di mata masyarakat, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Oh, ya, tuanku, bahkan di Jakarta saja masih banyak yang menjual Premium.”
Sang ajudan kembali mengambil air minumnya, diskusi ini menarik namun membuat ia haus terus-menerus.
“Kemudian Pertamina selaku BUMN yang mengelola sumber daya minyak dan gas membuat program langit biru yang mengajak masyarakat untuk merasakan bahan bakar Pertalite dengan harga khusus. Intinya program langit biru ini mengenalkan pada warga bahwa ada bahan bakar berkualitas yang ramah lingkungan dan otomatis berpengaruh pada keandalan mesin juga.”
“Apakah program itu berhasil?” tanya Pak Presiden penasaran.
“Sayangnya belum tuanku. Pertamina tak bisa sendirian, masalah BBM memang berdampak pada lingkungan. Namun, untuk mengatasi masalah penggunaan BBM tak berkualitas maka perlu mengatasinya dari berbagai sudut pandang seperti sudut pandang ekonomi. Pertamina perlu dukungan dari pemerintah, pelaku usaha kendaraan, bahkan masyarakat sendiri.”
“Saya yakin andai masyarakat paham bahwa bahan bakar yang mereka gunakan itu bisa memberikan pengaruh kepada lingkungan maka mereka akan memilih bahan bakar berkualitas.” 
“Sayangnya pemahaman masyarakat masih kurang, tuanku. Menurut survei yang dilakukan YLKI, sebenarnya masyarakat tahu dan paham bahwa bahan bakar dengan kualitas terbaik akan membuat kerja mesin kendaraan mereka semakin handal. Namun, untuk pemahaman bahwa bahan bakar yang tidak berkualitas baik akan berpengaruh kepada lingkungan ini mereka masih kurang paham.”
“Kalau begitu memang harusnya ada upaya kerja sama antara berbagai pihak untuk mengedukasi warga saat itu. Memang masalah harga masih sangat sensitif.” 
Diskusi antara Pak Presiden dan ajudannya berhenti sejenak. Ada sebuah pesan darurat yang masuk ke HP Pak Presiden. 
Pak, kondisi udara di Riau makin parah. Hari ini korban jiwa yang meninggal karena infeksi pernapasan bertambah sepuluh kali lipat. Jaringan listrik yang menggunakan pembangkit listrik tenaga air mulai kehabisan dayanya karena air yang mulai menghilang. Beberapa warga Riau juga mengeluhkan susahnya mendapatkan air. 

Sesaat mendapatkan pesan darurat itu, Pak Presiden bergegas ke istana negara untuk mengadakan rapat terbatas untuk membahas masalah lingkungan yang sudah parah ini dan prediksi ada pandemi yang jauh lebih dahsyat. 

Seberapa Pedulikah Kamu dengan Bumi?

Cerita di atas bisa saja terjadi dan bisa juga tak akan pernah terjadi. Kuncinya ada pada masa sekarang ini. Coba duduk sejenak dan kita merenung bersama. Coba jawab pertanyaan ini dalam hati kamu.

“Apakah menjaga lingkungan itu penting?”
“Apakah aku sudah mulai ikut menjaga lingkungan demi keberlangsungan manusia di masa depan?”
“Apakah aku patuh akan anjuran pemerintah untuk melakukan hal-hal sederhana yang bisa menyelamatkan bumi?”
“Apakah aku sudah peduli dengan sampah? Apakah aku sudah mau menggunakan bahan bakar yang berkualitas tinggi?”
“Apakah aku masih sering pergi dengan kendaraan padahal jarak yang ditempuh itu tidak terlalu jauh?”
“Apakah hatiku tak tergerak dengan bencana bahkan pandemi yang sekarang terjadi ini karena faktor lingkungan yang kita abaikan untuk menjaganya?”

Coba renungkan pertanyaan di atas. Apa jawabanmu? Apakah mayoritas kamu menjawab “Sudah” atau “Belum”. 
Selamat jika kamu menjawab sebagian besar pertanyaan di atas dengan kata “sudah”. Kalau sebagian besar masih kata “belum” maka bacalah artikel ini dan mulailah nyalakan radarmu untuk mencintai lingkungan. 
Siapakah yang paling bertanggung jawab dengan lingkungan hingga kualitas udara yang kita hirup sehari-hari? Jawabannya bukanlah pemerintah semata, namun kita sebagai individu memiliki peran penting. 
Setiap apa yang kita lakukan sangat memberi dampak pada lingkungan. 
Mari kita bahas tentang kualitas udara saja pada tulisan ini. Coba kamu tengok ke atas, masihkah langit yang kau pandang biru seperti waktu kau pandang saat kecil?
Kalau jawabannya masih biru seperti dulu maka selamat! Itu tandanya kualitas udara di tempatmu tinggal belum tercemar dan masih aman. Kalau langitmu tak lagi biru itu tandanya  ada masalah pada kualitas udara tempat kamu tinggal. 
Apakah kau tahu apa penyebab langit menjadi tidak biru? 
Penyebabnya adalah polusi udara yang ditimbulkan dari berbagai sumber. Ada yang bersumber dari pabrik, kendaraan bermotor, pembakaran sampah, pembakaran hutan, peristiwa alam, dan lain-lain. 
Fakta menyebutkan bahwa sekitar 75% polusi udara yang terjadi di Jakarta disebabkan oleh kendaraan bermotor. Polusi dari kendaraan bermotor ini diperparah dengan penggunaan bahan bakar yang kurang berkualitas sehingga tidak ramah lingkungan. 

Manfaat Menggunakan Bahan Bakar Berkualitas 

Coba dijawab, ya, seberapa kamu paham bahwa penggunaan bahan bakar berpengaruh juga pada lingkungan? 
Buat kamu yang belum paham, mari kubisikkan sini. 
Jadi, bahan bakar berkualitas memiliki dampak positif bagi lingkungan. Bahan bakar yang berkualitas itu seperti apa? Bahan bakar berkualitas itu yang memiliki kadar oktan (Research Octane Number/RON) yang tinggi. 
Nah, berikut nilai oktan bahan bakar yang ada di Indonesia:
  1. Premium (RON 88)
  2. Pertalite (RON 90)
  3. Pertamax (RON 92)
  4. Pertamax Turbo (RON 98)
Sayangnya saat ini masyarakat masih mayoritas menggunakan bahan bakar Premium. Sebenarnya pemerintah pernah membentuk tim Reformasi Mafia Migas yang salah satu rekomendasinya adalah pemerintah diminta menghapus BBM premium. 
Pemerintah pun pada tahun 2017 mulai mengendalikan secara ketat Premium di area Jawa, Madura, dan Bali. Ironisnya, pada pertengahan 2018 kebijakan tersebut dibatalkan karena faktor politis dan pemilu.
Sebenarnya apa saja manfaat yang didapat jika kita menggunakan bahan bakar bernilai oktan tinggi? Inilah manfaat yang kamu dapatkan:
  1. Membuat performa kendaraan lebih handal.
  2. Lebih irit BBM karena pembakaran di ruang mesin lebih sempurna. 
  3. Lebih ramah lingkungan karena rendah emisi. 

Cara Sederhana Dukung Program Langit Biru

Foto diambil dari Pertamina via pertamina.com

Pada hari Kamis, 11 Februari 2021 lalu aku mengikuti kegiatan diskusi publik dengan tema yang menarik yakni “Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru” yang diadakan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan KBR. 
Diskusi publik ini mengundang narasumber dari berbagai elemen, mulai dari YLKI, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, Bappeda, Dinas PUPR, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas ESDM, Kapolres, Dirjen Polda Metro Jaya, Kementerian Lingkungan Hidup, Redaktur, IESR, hingga influencer.

Ada satu poin yang aku garis bawahi ketika Bapak Tulus Abadi menyampaikan pendapatnya. 

“Menurut perspektif masyarakat tentang keandalan mesin dengan menggunakan bahan bakar berkualitas mayoritas sudah paham. Hanya saja persepsi masyarakat terkait bahan bakar yang turut berpengaruh merusak lingkungan mayoritas belum paham.”

Aku pun tergelitik, kiranya apa yang aku tulis bisa memahamkan masyarakat bahwa bahan bakar yang kita pakai sangat berpengaruh terhadap lingkungan. 
Oh, ya, aku jadi tahu tentang program langit biru yang sedang mengkampanyekan agar masyarakat berpindah menggunakan bahan bakar berkualitas dan ramah lingkungan. 
Baiklah, lewat tulisan ini aku ingin memberitahu bahwa peranmu dalam menjaga langit kita tetap biru sangatlah penting. Tugas menjaga langit kita tetap biru bukanlah tugas Pertamina atau pemerintah saja. Kita pun punya andil yang besar sebagai masyarakat. 
Tidak irikah kau dengan langit belahan bumi Eropa yang masih biru merona cantik? Langit mereka tetap biru karena masyarakatnya saling bahu-membahu dengan pemerintah untuk mengurangi polusi udara salah satu caranya dengan menggunakan kendaraan umum. Bahkan bagi kendaraan pribadi dikenai pajak, lho.
Bukankah kau ingin bisa melegakan perasaanmu dengan melihat langit yang tetap biru? Jika iya, kamu bisa memulainya dengan cara sederhana ini.
  1. Mulai beralih menggunakan bahan bakar yang memiliki nilai oktan tinggi seperti Pertalite atau Pertamax. 
  2. Ajak saudara-saudaramu untuk juga beralih menggunakan bahan bakar yang memiliki nilai oktan tinggi juga. 
  3. Sebarkan informasi dan edukasi pada saudara, teman, rekan kerja bahwa bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan memiliki pengaruh bagi lingkungan. Kau bisa menyebarkan informasi edukasi tersebut dengan membuat konten di sosial media kamu.
  4. Beralih menggunakan transportasi umum jika memungkinkan.
  5. Ketika kamu hanya pergi menuju tempat yang dekat dan masih bisa dijangkau dengan jalan kaki, maka pilihlah untuk jalan kaki.
Mudah, bukan? Hal yang kamu perlukan adalah niat tulus untuk menjaga langit tetap biru agar generasi selanjutnya bisa merasakan indahnya dan tenangnya ada di bawah rengkuhan langit biru. 
Selamat mencoba cara sederhana untuk menghasilkan dampak yang membahana demi keberlangsungan hidup di muka bumi. Ayo gunakan bahan bakar berkualitas nan ramah lingkungan! Mari saling bergandeng tangan mewujudkan langit Indonesia yang tetap biru. 

 


0 Shares:
1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like