Bebas Takut Diambil Darah

Setelah mencoba tes kehamilan sendiri, maka agar hati makin teryakinkan maka pergilah aku dan suami ke puskesmas untuk cek langsung.
Aku dan suami berangkat pada hari ketiga Ramadhan. Aku masih ingat apa saja yang akan aku jalani nanti ketika pemeriksaan kehamilan ini.

Ya, aku akan berhubungan dengan jarum lagi. Ada rasa ngeri menghantuiku.
Tapi aku kembali dibawa bernostalgia dengan rasa sakit yang pernah kualami beberapa bulan lalu ketika kiret.

“Dear diriku, kau sudah pernah merasakan yang jauh lebih nikmat dibanding jarum suntik yang sejenak mampir. Lihatlah semua itu telah berlalu. Memang seperti inilah fitrah seorang perempuan. Kamu harus berani.”

Maka bismillah aku berangkat ke puskesmas.

Dengan antrian yang panjang, aku merasa santai sembari membaca buku sang teman sejati untuk melewati waktu kejenuhan dalam menunggu.

Setelah aku diperiksa dan ditimbang di poli KIA, aku diminta menuju laborat untuk tes Hb dan Hbs Ag.

Deg-degan sebenarnya namun tetap bismillah saja. Allah yang akan memberi kekuatan.
Semenjak menikah entah mengapa rumah sakit menjadi hal yang akrab bagiku. Aku yang takut diinfus setelah menikah sudah mengalami diinfus dua kali. Bahkan merasakan nikmatnya kiret tanpa bius total. Maka dalam hati aku ingin sekali bisa mandiri lepas dari rasa takut terhadap sakit.

Masuklah aku di laborat untuk diambil darahnya. Aku mencoba mengalihkan pandanganku dari jarum yang akan menusuk kulitku. Ku coba untuk mengalihkan pikiranku. Seingat aku terlintas akan bacaan yang pernah aku baca bahwa aku harus fokus pada nafasku.

Kemudian petugas laborat memerintah untuh menahan sakit sebentar dan tahan nafas. Aku pun mencoba fokus pada nafasku dibanding fokus pada rasa sakit. Alhamdulillah meski terasa sakit sebentar, aku merasa jauh lebih bisa menguasai ketakutanku akan rasa sakit.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like