Dua malam terakhir ini malamku terbayang-bayang dengan kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 yang telah meninggalkan luka tak hanya bagi keluarga korban, tapi juga bagi negeri tercinta ini.
Terbayang rasanya bila menjadi keluarga korban, rasanya menjadi korban yang ada di pesawat itu sendiri. Bayangkan rangkai pesawatnya saja hancur bak robekan kertas, lantas bagaimana dengan para korban itu sendiri.
Kejadian kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 ini mengingatkan bahwa maut hanyalah tentang giliran. Setiap yang berjiwa tentu akan merasakan yang namanya kematian, itu janji pasti dari Allah.
Kejadian kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh pada tanggal 9 Januari 2021 lalu juga meramaikan jagad dunia sosial media, baik Facebook, Instagram, hingga TikTok pun ramai dengan konten berita Sriwijaya Air SJ 182.
Konten yang dibuat ada yang berupa berita, video story korban sebelum kecelakaan, profil-profil kecelakaan, instagram korban yang statusnya menjadi mengenang, dan banyak konten lainnya.
Konten yang diunggah tentu membuat masyarakat menjadi update tentang info terkini dari kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182, hanya saja sangat disayangkan sekali tidak semua konten yang diunggah adalah benar.
Ada beberapa konten yang diunggah ternyata merupakan berita hoaks, hingga banyak komentar yang muncul dari para netizen seperti ini:
“Jangan nyebarin berita hoaks karena hanya ingin mencari viewers.”
Sungguh sebuah hal yang miris, bukan bila ada berita hoaks seperti ini. Misalnya salah satu berita hoaks yang sudah dipastikan ketidakbenarannya adalah beredarnya foto bayi yang katanya diklaim sebagai korban Sriwijaya Air SJ 182 yang selamat.
Coba, posisikan kita sebagai orang tua dari korban Sriwijaya Air SJ 182, tentunya bila mendengar kabar ini akan ada harapan, bukan? Tapi bagaimana rasanya jika harapan itu ternyata harapan palsu? Bukankah kita tak suka bila diberikan harapan palsu, apalagi ini terkait info hidup dan mati.
Jangan sampai konten yang kita unggah ke sosial media menimbulkan keresahan bagi banyak orang. Itu bisa jadi dosa jariah loh. Bukankah yang kita inginkan adalah amal jariah yang kebaikannya akan mengalir setelah kita meninggal nanti.
Hal tentang penyebaran berita hoaks selalu saja muncul setiap kali ada kecelakaan atau musibah yang melanda negeri ini. Sebenarnya apa gerangan yang terjadi dalam masyarakat kita? Ini menjadi PR besar bagi kita bahwa literasi digital harus benar-benar ditanamkan dan diamalkan pada masyarakat kita.
Masyarakat kita perlu dilatih untuk saring dulu sebelum sharing agar kejadian beredarnya berita hoaks tidak terulang kembali yang justru semakin menyakitkan para keluarga korban.
Ragam Berita Hoaks Pesawat Sriwijaya Air SJ 182
Aku memang lebih update info tentang kecelakaan pesawat Sriwijaya Air ini di TikTok. Bagian fyp (for your page) semuanya adalah konten tentang kejadian pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Miris saja, ada beberapa konten yang dibuat hanya untuk mendapatkan view banyak.
Mau tahu berita hoaks apa saja yang aku temukan di TikTok dalam dua hari terakhir ini?
1. Berita Penemuan Barang Korban di Dasar Laut
Ada konten video yang menunjukkan penemuan barang penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di dasar laut. Konten tersebut menggembarkan penyelam yang menemukan HP Iphone di dasar laut.
Faktanya ternyata itu adalah konten seorang Youtuber yang biasa menyelam dan membuat konten penemuan barang para wisatawan di dasar laut.
2. Video Korban Selamat dari Pesawat dan Tidak Bisa Keluar
Baru saja aku melihat akun TikTok dengan konten yang menggambarkan suasana bawah laut dan terperangkap di antara serpihan puing-puing pesawat. Dalam kontennya tersebut, ia menuliskan kata-kata seperti ini:
“Akhirnya, aku selamat dari pesawat Sriwijaya. Makasih ya semuanya udah doain aku, tapi aku enggak tau cara keluar.”
3. Video yang Mendengarkan Suara Aneh dari Bawah Laut
Ada juga yang mengunggah video dengan penjelasan narasi dari seorang narasumber yang menceritakan bahwa ada suara aneh ketika kantong jenazah akan diangkat dari bawah laut, berupa teriakan manusia.
Faktanya ternyata itu bukanlah dari kejadian Sriwijaya Air SJ 182.
4. Berita Seorang Bayi Perempuan Selamat
Nah, ini cukup meresahkan sebenarnya, karena menimbulkan harapan palsu. Ada berita foto yang beredar seorang bayi perempuan mengenakan pelampung selamat.
Faktanya ternyata bayi perempuan yang selamat tersebut adalah bayi yang selamat dari kecelakaan pesawat Lion Air JT 610.
5. Video Isi Percakapan WhatsApp dengan Korban
Ramai juga di jagad dunia TikTok konten berupa video yang menampilkan isi percapakapn WhatsApp dengan seorang korban. Ganjilnya adalah waktu percakapannya berbeda dengan waktu keberangkatan.
Hal ini tentu mengundang reaksi dari para netizen bahwa video tersebut sengaja dibuat untuk meningkatkan jumlah viewers saja.
Maraknya Berita Hoaks Pesawat Sriwijaya Bukti Rendahnya Literasi Digital atau Empati Kita?
Sebenarnya apa sih yang dibanggakan ketika kita mengunggah konten hoaks di sosial media. Bagi aku yang memiliki nilai diri untuk menebar kebermanfaatan, maka menyebar konten hoaks adalah larangan haram bagiku. Namun, kenyataannya bagi sebagian orang tentu tidak.
Seharusnya ketika ada sebuah musibah besar yang terjadi, maka kita harusnya memberikan dukungan bagi keluarga korban meski kita tidak kenal. Posisikan kita sebagai keluarga korban yang sedang linglung, kalut, sedih luar biasa karena kehilangan sanak saudara, malah kita asyik mendapatkan keuntungan dari berita hoaks yang dibuat.
Menurut seorang akademisi yang juga seorang jurnalis bernama Leo Prima menerangkan bahwa ada tiga alasan mengapa seseorang menciptakan berita hoaks.
Pertama, alasannya adalah memang dari si pembuat hoaks memiliki tujuan jahat untuk meresahkan masyarakat.
Kedua, alasannya adalah karena si pembuat berita hoaks butuh untuk memunculkan eksistensi dirinya. Wajar memang sebagai seorang manusia butuh pengakuan, tapi tidak benar jika caranya adalah dengan menyebarkan berita hoaks.
Ketiga, alasan yang menjadi pokok permasalahan selama ini yakni rendahnya minat baca. Rendahnya minat baca masyarakat kita membuat mudah termakan berita hoaks hingga menyebarkannya.
Sehingga, bisa kita temukan jawabannya bahwa sebenarnya yang jadi masalah utama dari penyebaran berita hoaks adalah masih rendahnya literasi khususnya literasi digital di masyarakat kita.
Kalau berbicara empati, Indonesia sungguh punya rasa empati yang tinggi. Bisa merasakan penderitaan yang dialami oleh orang yang bahkan jauh jangkauannya. Indonesia bahkan dinobatkan menjadi negara paling dermawan pada tahun 2018 oleh Charities Aid Foundation (CAF).
Pentingnya Literasi Digital sebagai Kecakapan Hidup yang Perlu Dikuasai
Apa sih yang kamu ketahui tentang literasi digital? Merujuk pada penjelasan dari seorang penulis buku Digital Literacy (1997) menjelaskan bahwa literasi digital adalah kemampuan seseorang dalam memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari sumber yang luas dan diakses melalui peranti komputer.
Bertambahnya tahun, terdapat penjelasan yang baru dijelaskan oleh Douglas A.J Belshaw dalam tesisnya yang berjudul What is ‘Digital Literacy’? (2011). Douglas dalam tesisnya menyebutkan bahwa ada delapan elemen penting yang diperlukan untuk mengembangkan literasi digital. Apa sajakah itu?
- Kultural, pemahaman tentang ragam konteks pengguna dunia digital.
- Kognitif, daya pikir yang digunakan dalam menilai sebuah konten.
- Konstruktif, reka ahli dalam menciptakan sesuatu yang ahli dan aktual.
- Komunikatif, memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital.
- Kepercayaan diri yang bertanggung jawab.
- Kreatif, memecahkan masalah dengan melakukan hal baru.
- Kritis dalam menyikapi arus konten yang masuk.
- Bertanggung jawab secara sosial.
Kalau dilihat lebih jauh maka delapan elemen penting tersebut termasuk komponen yang diperlukan dalam kecakapan hidup.
Penjelasan dari Douglas juga senada dengan konsep literasi digital yang digaungkan oleh UNESCO bahwa literasi digital tidak terbatas hanya pada menulis, membaca, dan kegiatan matematika yang berkaitan dengan pendidikan.
Namun, literasi digital juga merupakan kecakapan hidup yang tidak hanya melibatkan kemampuan menggunakan peranti teknologi, informasi, dan komunikasi, tetapi juga kemampuan bersosialisasi, berpikir kritis, memiliki sikap, kreatif, inspiratif, dan punya kompetensi digital.
Nah, kira-kira para pelaku penyebar berita hoaks sudah mengasah kemampuan literasi digital mereka sebagai kecakapan hidup belum ya? Sepertinya belum.
Fakta Minat Baca di Indonesia, Benarkah Minat Baca di Indonesia Rendah?
Menurut data yang dilansir dari Kominfo menyebutkan bahwa berdasarkan data dari UNESCO, Indonesia menduduki dua peringkat terbawah dalam hal literasi yang artinya minat bacanya sangat rendah.
Bila ditulis dalam angka , maka minat baca masyarakat Indonesia hanya 0.001 %. Artinya adalah 1000 orang Indonesia cuma satu orang yang rajin membaca.
Hal yang mengejutkan adalah menurut lembaga riset digital marketing Emarketer memprediksi pada tahun 2018 penduduk Indonesia memiliki gadget smartphone aktif lebih dari 100 juta orang, bahkan kadang satu orang memiliki lebih dari satu buah gadget. Kalau diperingkat Indonesia menduduki peringkat kelima negara yang memiliki banyak gadget.
Faktanya gadget memang lebih menarik dibandingkan buku. Hal ini dibuktikan dengan data dari we are social per Januari 2017 mengungkapkan bahwa rata-rata durasi screen time orang Indonesia kurang lebih 9 jam per hari.
Kalau demikian memang bisa dikatakan bahwa minat baca di Indonesia masih rendah. Solusi untuk menyeimbangkannya adalah pemerintah atau pihak lainnya yang menyediakan konten hendaknya untuk selalu membagikan konten yang bermanfaat agar masyarakat Indonesia tidak termakan berita hoaks.
Langkah Kecilku Menyebarkan Virus Cinta Membaca di Desaku
Ketika lulus kuliah pada tahun 2017, aku memutuskan untuk kembali ke desa. Aku merasa jet lag dari kota ke desa. Di kota banyak sekali sarana pengembangan diri dan fasilitas memadai seperti perpustakaan.
Sayangnya ketika pulang ke desa, aku sangat susah menemukan sarana dan fasilitas pengembangan diri seperti perpustakaan. Kemudian suatu hari temanku datang ke rumah untuk meminjam buku.
“Gimana kalau kita buat perpustakaan di desa.” celetukku asal.
Ternyata temanku menyambut ideku. Ia merasa satu pemikiran denganku. Analisisku adalah bahwa selama ini minat baca di Indonesia bisa saja rendah karena kurangnya tersedia sarana perpustakaan dan buku-buku yang berkualitas terutama di pedesaan.
Alhamdulillah aku dan temanku bisa membentuk komunitas literasi dan mendirikan perpustakaan desa. Apa yang kami lakukan diapresiasi oleh perangkat kecamatan dan dapat bantuan buku juga dari perpustakaan daerah Banjarnegara.
Itulah langkah kecil yang pernah aku lakukan dalam rangka menyebarkan virus cinta baca di desaku.
Tiga Langkah Sederhana Memulai Literasi Digital dari Keluarga
Big Wins Come From Small Wins
Itulah pesan dari seorang mentorku. Keberhasilan besar bermula dari keberhasilan kecil yang terus-menerus.
Untuk bisa meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia khususnya dalam literasi digital memang bukan hanya tugas pemerintah saja. Kita sebagai individu bisa memulainya cukup dari keluarga kita dan lingkungan terdekat kita.
Apa yang bisa kita lakukan? Ada tiga ide dariku yang bisa kamu terapkan juga di keluarga.
Untuk bisa meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia khususnya dalam literasi digital memang bukan hanya tugas pemerintah saja. Kita sebagai individu bisa memulainya cukup dari keluarga kita dan lingkungan terdekat kita.
Apa yang bisa kita lakukan? Ada tiga ide dariku yang bisa kamu terapkan juga di keluarga.
1. Saring Sebelum Sharing
Ajak anggota keluarga untuk menyaring info apa pun yang masuk ke smartphone atau sosial medianya sebelum disebarkan ke orang lain. Jangan sampai menyebarkan berita atau info yang tidak baik bahkan menyesatkan.
2. Berlatih Membedakan Fakta dan Opini
Nah, ini yang penting untuk dilatih pada anggota keluarga kita. Ajarkan mereka untuk membedakan mana fakta dan mana opini agar tidak bias dalam memahami sebuah info yang ada di sosial media.
3. Mengajarkan Bersosial Media Untuk Kebermanfaatan
Hal ini juga penting bahwa sosial media adalah sarana kita untuk menjadi orang bermanfaat bagi sebanyak orang. Bukan sebagai sarana mencari popularitas semata sehingga melakukan berbagai macam cara untuk bisa populer termasuk menyebarkan berita hoaks.
Hal ini juga dilakukan oleh seorang blogger inspiratif bernama teh gemaulani, tulisannya yang ada di blog maupun konten di sosial medianya sangat bermanfaat.
Kesimpulan
Sampai kapan kita akan terus disuguhkan dengan berita atau info hoaks bahkan saat musibah menyedihkan seperti kejadian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 ini.
Mari kita ubah mindset kita dalam menggunakan sosial media, gunakanlah sosial media untuk menyebarluaskan kebermanfaatan secara luas. Bukan menebarkan keresahan. Selamat mengasah kepekaanmu dalam literasi digital.
Selamat bertumbuh!


