Berpetualang Lintas Daerah dan Lintas Waktu Melalui Buku

Lama sudah aku tak membaca buku fiksi, maka ketika ada pre order novel karangan penulis idola maka langsung deh pesen tanpa pikir panjang. 
Selama ini buku yang aku baca rata-rata buku non fiksi dengan tema yang kira-kira sedang aku butuhkan. Lalu timbullah jenuh yang menyapa.
Ada rasa rindu untuk membaca buku fiksi. Rindu berpetualang Lintas waktu dan tempat. Rindu merasakan setiap adegan yang ada di buku fiksi itu. 
Hari ini, ketika yang lainnya bisa berlebaran idul adha dengan suami maka aku tidak. Ada rasa sepi ketika suami tak ada di sisi. Rasa sepi itu menimbulkan kegalauan yang membuatku tak produktif. 
Alhamdulillah hari ini meski masih terganggu dengan rasa sepi, aku bisa menetralisir rasa itu dengan membaca novel si anak badai. Aku terhibur dengan tingkah laku tokohnya di novel tersebut. 
Novel tersebut mengisahkan tentang kisah seorang anak yang tinggal di kampung manowa. Kampung ini berdiri di atas sungai, jadi semacam rumah apung begitulah. Hiburan bagi anak-anak disana adalah menunggu kapal dan ketika kapal datang mereka langsung menceburkan diri ke sungai untuk mengais lemparan koin yang dilemparkan oleh penumpang kapal. 
Yang aku suka dari novel Tere Liye adalah secara tersirat ada pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari cerita itu. Jadi tak hanya sekedar terhibur. 
Novel si anak badai ini menceritakan keunikan masing-masing tokohnya. Ada Zaenal, Awang, Ode, malim, Fatah, tiyah, mamak, bapak, pak kapten, Wak sidik, Mutia dan tokoh lainnya. Ada cerita lucu dari si Awang yang menolong Mutia. Jadi Awang dan Zaenal menemukan Mutia sedang menangis di kelasnya. Ketika ditanya alasannya menangis, Mutia tidak menjawab hingga Awang menanyai beberapa kemungkinan yang membuat Mutia menangis. Namun bukannya ketemu akar masalahnya justru membuat tangisan Mutia tambah kencang. Hingga akhirnya Mutia cerita kalau bolpoin kesayangannya jatuh ke sungai lewat sela papan yang ada di lantai kelasnya. Sekolah mereka juga berada di atas sungai. 
Awang pun berlagak seperti pahlawan dan menjanjikan pada Mutia bahwa ia akan membawa kembali bolpoinnya. Tahukah kamu apa yang dilakukan Awang? 
Awang meminta Mutia untuk berada di pintu untuk memastikan tak ada siapapun yang masuk ke kelas. Sedangkan Awang melepas seluruh bajunya untuk menceburkan diri ke sungai lewat jendela kelas. Dalam hitungan detik akhirnya Awang kembali dengan bolpoin yang ada di mulut Awang. 
Sehari ini aku senang sekali bisa membaca banyak lembar dari novel ini. Sekitar puluhan halaman sudah aku baca. Aku juga membaca tafsir juz amma khususnya surat at-takwir. 
Dikatakan bahwa siapa yang ingin menyaksikan dahsyatnya hari kiamat maka bukalah surat at-takwir. 
Hari ini aku membaca tafsir lima ayat pertamanya. Intinya adalah pada hari kiamat nanti cahaya matahari akan dimatikan dan matahari akan dilempar ke neraka untuk menyalakan neraka. Kemudian bintang-bintang akan berjatuhan di muka bumi ini. Gunung-gunung yang kokoh akan dicabut oleh Allah dari pasaknya dan dihamburkan. Orang yang memiliki unta yang sedang bunting akan ditinggalkan dan saat itu binatang-binatang  liar dikumpulkan. 
Membaca tafsir lima ayat pertama surat at-takwir membuatku ngeri. Semoga kelak tak sampai menyaksikan kejadian hari kiamat. Nauzubillah hi mindzalik. 
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like