Cerita Unik Di Balik Uang Baru Rp. 75.000

 

Ada yang mau tahu cerita dibalik uang baru Rp. 75.000?

Aku mau cerita nih tentang cerita mengapa uang baru Rp. 75.000 ada. Cerita ini berdasarkan bincang inspiratif Teh Ani Berta, Founder Female Digest dan Indonesian Social Blogpreneur, bersama Kang Asep Kambali, seorang sejarawan dan founder Historia Indonesia.

Tapi sebelum aku cerita, kita nostalgia dulu yuk!

Kapan Terakhir Kali Belajar Sejarah?

“Mba lala, ibumu dulu guru idola, karena setiap pelajaran sejarah itu pasti cerita banyak.” Puji salah seorang murid kepadaku.
Aku hanya tersenyum, ibuku pun mengiyakan.
“Iya, dulu ibu hobi banget bercerita saat menyampaikan pelajaran. Makanya murid-murid ibu zaman 80-an dulu masih ingat terus sama ibu.” Cerita ibuku.
Hampir dua puluh lima tahun sudah ibuku menjadi guru sejarah di SMA Negeri 1 Karangkobar, tempatku bersekolah dulu. 
Ibuku ketika lulus langsung diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di Karangkobar yang terhitung masih pelosok. Jarak dari ibukota kabupaten sekitar 26 km. Dulu Karangkobar belum serame sekarang. Masih banyak hutannya.
Apalagi kendaraan saat itu masih jarang sekali. Beruntung sekali ibu adalah guru sejarah, guru yang selalu menjadi idola karena hobi bercerita.
Cerita sejarah yang ibuku berikan pada murid-muridnya terkenang hingga sekarang. Namun guru sejarah yang dulu dan kini berbeda. 
Dulu ibuku lebih leluasa bercerita banyak pada murid-muridnya namun sekarang entah karena harus mengejar jumlah jam ajar atau karena materinya bertambah banyak membuat ibuku tak leluasa bercerita seperti dahulu lagi. 
Saat aku bersekolah juga sejarah hanya menjadi pelajaran yang harus dihafalkan. Masih aku ingat betapa berdarah-darahnya aku menghafal kerajaan yang ada di nusantara. 
Terlahir dari seorang ibu yang berprofesi sebagai guru sejarah dan bapak sebagai guru PPKN membuatku familiar dengan tulisan sejarah. 
Pernah, aku membaca buku-buku sejarah milik ibu saat kuliah dulu yang sangat tebal dan aku juga pernah membaca skripsi milik ibu saat aku duduk di bangku SMA.
Sebenarnya belajar sejarah itu menyenangkan. Sejarah sejatinya bukan berarti menghafal. Namun apabila kita mengerti bahwa kata sejarah diambil dari Bahasa Arab syajarotun (pohon) maka kita akan paham bahwa sejarah itu merupakan cerita tentang silsilah.
Dengan belajar sejarah kita bisa mengambil hikmah yang terjadi di masa lalu. Misalkan cerita sejarah tentang betapa giatnya R.A Kartini menyuarakan emansipasi wanita. Cerita itu membuat kita terinspirasi untuk bisa semangat berkarya. 
Setiap dari kita hidup dengan sejarah dan masa depan yang akan kita songsong juga terbentuk karena ada sejarah.
Masa depan yang kita inginkan akan bergantung dengan apa yang kita lakukan hari ini. 
Jadi, kapan terakhir kali kamu belajar sejarah? Kalau aku beberapa detik yang lalu. Bukankah detik, menit ataupun jam yang kita lewati juga adalah sejarah? 

Sejarah Uang Baru Rp. 75.000

“Kang Asep, kenapa kita harus belajar pahlawan orang Sumatera, Jawa, dan semisalnya. Apakah mereka juga belajar pahlawan orang Papua?”
“Kang Asep, kenapa nama jalan di Indonesia jarang yang pake nama pahlawan dari Papua?”
Pertanyaan-pertanyaan itu datang dari rekan Kang Asep yang berasal dari Papua. Ada lagi pertanyaan dari rekan Kang Asep dari Ambon.
“Kang asep kenapa gambar pahlawan kita adanya di uang 1000 terus, kapan pahlawan kita ada di gambar 100.000?”
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi salah satu cerita dibalik adanya uang baru pecahan Rp. 75.000.
Menurut Kang Asep, cara terbaik untuk belajar sejarah khususnya pahlawan adalah dengan belajar dari uang. 
Nah, 1,5 tahun lalu Kang Asep bersama tiga sejarawan lainnya diundang oleh pihak Bank Indonesia untuk merumuskan uang peringatan kemerdekaan yang sekarang telah dicetak yakni uang pecahan Rp. 75.000.
Pada pertemuan itu Kang Asep dimintai masukan, maka beliau memasukkan keluhan teman-temannya dari Papua dan Ambon dalam perumusan uang peringatan kemerdekaan. 

Mengapa Uang Baru Pecahan Rp. 75.000 Berbeda?

Bila dibandingkan dengan uang pecahan yang telah beredar di pasaran maka uang Rp. 75.000 ini termasuk unik. 
Dari warna paling mencolok karena warna-warni, kemudian uang ini dicetak terbatas. Uang baru Rp. 75.000 hanya dijual sebanyak 75 juta lembar. 
Mengapa uang Rp. 75.000 berwarna-warni? Karena uang ini merepresentasikan keanekaragaman Indonesia. Indonesia punya banyak kebudayaan. Bisa dibilang warnanya merupakan gabungan warna dari mata uang yang pernah ada sebelumnya.
Mengapa uang Rp. 75.000 dicetak terbatas? 
Uang  Rp. 75.000 ini adalah commemorative money, jadi uang ini adalah uang peringatan. Karena dicetak sebagai uang peringatan maka harus unik. Apabila dicetak banyak maka uang ini kehilangan keunikan dan tak ada nilainya.
Sebenarnya Indonesia sudah empat kali ini mencetak uang peringatan. Sebelumnya pada peringatan ulang tahun ke-25, 40 dan 50 . Sayangnya uang tersebut nominalnya besar dan dicetak dalam bentuk koin logam sehingga orang kesusahan untuk memilikinya. 
Kelebihan uang  Rp. 75.000  adalah dicetak dengan durable paper, kertas ini tidak ada di Indonesia. Kertas ini membuat uang tidak mudah lecek, sobek, kemudian tampilannya lebih glossy dan uang ini juga sudah punya keamanan yang lebih canggih. 

Rahasia dibalik Uang Baru Rp. 75.000 

Uang  Rp. 75.000  ini memiliki makna yakni mensyukuri kemerdekaan, memperteguh kebhinekaan dan menyongsong masa depan gemilang. 
Uang  Rp. 75.000 merepresentasikan tiga masa yakni masa lalu, masa kini dan juga masa depan. 
Nah, Kang Asep memberikan rahasia kenapa tulisan angka 75 dibuat besar dan angka 0 dibuat kecil. Ternyata ini dalam rangka menyongsong masa depan. 
Ke depannya Indonesia akan mengalama redenominasi mata uang, misalkan tadinya  Rp. 75.000  diganti angkanya menjadi Rp. 75. Nah,adanya uang baru ini sebagai sarana berlatih agar masyarakat bisa beradaptasi. 
Wow, cukup menarik bukan cerita dibalik uang baru  Rp. 75.000 . Awalnya aku juga bertanya-tanya mengapa ada uang baru  Rp. 75.000 . Nah buat kamu yang pengen dapat uang ini bisa ikut penukaran secara kolektif. 
Kebetulan komunitas historia sedang membuka penukaran secara kolektif untuk batch pertama. Adapun caranya adalah sebagai berikut: 

Mendaftarkan diri melalui nomor WhatsApp 0895636860645 atas nama Imas. Dengan format: UPK75_Nama_Jumlah

Penukaran Kolektif Batch 1 Komunitas Historia
sumber: instagram @komunitashistoria

Penukaran Kolektif ini akan dibuka sampai dengan Hari Rabu, 2 September 2020 pukul 12.00 atau bahkan bisa ditutup apabila sudah melebihi kuota. 
Wah yang penasaran uangnya seperti apa, bisa ikutan ya. Oh ya, uang Rp. 75.000 ini sebenarnya bisa dibelanjakan lho. Tapi sayang aja kalau uang yang dicetak terbatas ini dibuat belanja. Jadi, nggak menyimpan sejarah dong. Tapi semua itu pilihan.
Wah, menarik sekali bukan cerita dibalik uang baru Rp. 75.000? Siapa mau punya? 
0 Shares:
1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like