Family Project Sebelum Kedatangan Personil Baru

Alhamdulillah setelah 4 bulan lalu harus kehilangan calon personil baru di keluarga kecilku, maka hari ini sudah kudapati si kecil berusia 13 minggu dalam kandunganku. Ada haru yang menyeruak ke dalam dada ketika melihat pada layar USG bahwa si kecil sudah mulai terbentuk bagian-bagian tubuhnya. Bahkan ada air mata yang hampir menetes dari pelupuk mata suami ketika melihat si kecil berenang-renang indah dalam perut ibunya. Alhamdulillah maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan. 
Sebelum menikah aku sudah bertekad bahwa kelak anak-anak yang lahir dari rahimku adalah anak-anak sholeh-sholehah yang menjadi ahli al-quran. Menjadi anak-anak yang hafal dan paham Al Quran , mencintai Al-Quran dan menerapkan kandungan Al-Quran dalam kehidupan sehari-harinya. Maka sebenarnya projek terbesarku dalam pernikahan ini adalah mendidik anak-anakku kelak agar menjadi hafiz dan hafizah meskipun aku sendiri belum paham 30 juz. Tapi aku punya tekad yang besar. Sedari sebelum menikah aku sudah giat belajar berbagai macam metode menghafal, belajar rahasia daripada keluarga para penghafal Al-Quran hingga mengikuti sendiri kegiatan di karantina tahfidz. Semua itu aku lakukan untuk mendidik buah hatiku kelak. 
Aku membaca buku kisah dari orang tua yang semua anaknya hafizh Al-Quran padahal kedua orang tuanya bukan seorang hafiz. Namun karena tekadnya yang kuat dan besar maka Allah mudahkan. 

Rahasianya adalah disiplin waktu. Setiap hari anak-anak diberi waktu setelah subuh dan magrib untuk setor hafalan atau murojaah. Waktu tersebut tidak bisa diganggu gugat untuk kegiatan lainnya. 

Lalu kemarin saat aku sedang berdua dengan suami tanpa ada gadget diantara kita, aku mulai membuka percakapan

“Mas, adek kan pengen anak-anak kita kelak bisa jadi hafiz Al-Quran. Nah kita meniru salah satu rahasia keluarga para penghafal Al-Quran yakni menggunakan waktu setelah subuh dan magrib untuk menambah hafalan maupun murojaah. Nah karena si dedek belum lahir, yuk kita berdua dulu yang mulai.”

Suamiku pun menyetujui usulku itu.  Ibaratnya sebelum lari maraton harus pemanasan dulu. Nah inilah pemanasan kita. Kita akan membiasakan diri untuk memanfaatkan waktu magrib dan subuh untuk mengasah kecerdasan spiritual kami dengan menghafal Al-Quran. Bismillah Al Quran itu mudah, semoga Allah mudahkan 🙂

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like