Melatih Berpikir Matematis dengan Produksi Video di Pembatik Level 3

Belajar yang sesungguhnya adalah dengan mempraktekkannya.

Aku kira hari kedua di Pembatik Level 3 ini akan membosankan karena jamnya yang padat dan waktu yang tertera di rundown menunjukkan acara sampai malam. Namun ternyata aku keliru. Hari kedua di pembatik level 3 ini menurutku yang paling menarik dan mengesankan. Karena apa?

Karena aku dan peserta lainnya tak melulu dijejali materi yang banyak namun bisa menguap hilang kapan saja. Hari kedua kami benar-benar diminta praktek untuk produksi video pembelajaran dengan model lecture dengan peralatan yang sudah kami siapkan.

Aku jadi merasa dihari kedua kita sedang di coaching. Biasanya para coach memang tidak menjejalkan banyak materi namun minim praktek. Para coach akan meminta mentee-nya untuk praktek terlebih dahulu baru diberi masukan dan insight oleh para coach.

Pagi di hari kedua tiap peserta bergabung dengan kelompoknya. Aku masuk di kelompok 2 bersama ibu gartatik dari blora, ibu harsasi dari tengaran dan pak slamet dari tengaran juga. Kami diminta mencari tempat yang nyaman untuk melakukan produksi video. Kami memutuskan untuk mengambil take video di kamar bu sasi yang ada di lantai dua.

Oh ya dalam pembuatan video pembelajaran ini alat-alat yang kami butuhkan sebenarnya sederhana saja seperti

  • Kamera Handphone
  • Tripod HP
  • Mic clip on
  • Kain green screen
  • Lakban

Sederhana ya ternyata membuat video? Sebenarnya alat-alat itu bagi yang pemula sih. Kalau mau lebih expert masih banyak peralatan yang diperlukan. Karena kami hanya dikasih waktu dari jam 8 sampai setengah dua maka peralatan seadanya pun bisa jadi.

Dalam dunia produksi video dan editing video aku masih newbie sekali sehingga aku sangat excited sekali.

Oh ya sebelum produksi video penting banget nih buat outline naskah yang akan ditampilkan dalam konten video. Wah kayak bikin buku aja ya ada outline-nya. Alhamdulillah dalam waktu singkat aku bisa membuat outline naskah. Sebelum membuat outline naskah aku membuat mind mapping terlebih dahulu untuk menumpahkan seluruh ideku. Mind mapping ala kadarnya namun sangat membantuku lancar menulis outline naskah video.

Mind Mapping 
Dalam outline naskah video ada beberapa kolom yang harus diisi seperti kolom video yang diisi tentang konsep videonya per scene pengambilan gambar. Kemudian ada kolom audio yang diisi tulisan yang nanti akan diucapkan saat shooting. Ada juga kolom durasi untuk mengestimasi seluruh total waktu yang diperlukan. Untuk lebih jelasnya, aku lampirkan contoh naskah outline  DISINI!
Nah setelah naskah outline video siap. Kita lanjut ke teknis pengambilan video. Hal baru yang aku pelajari adalah tentang adanya green screen. Kenapa hijau? Karena dalam tubuh kita jarang warna unsur berwarna hijau, kecuali memang kalau kita berpakaian hijau. Tujuannya apa digunakan kain green screen? Tujuannya untuk memudahkan saat editing.

Balik lagi ke cerita take video. Jadi ketika kami sudah sampai dikamar Bu Harsasi, kami langsung menentukan kira-kira spot mana yang pas untuk dijadikan latar dengan green screen. Ketemulah satu spot di dekat tempat tidur. Kamipun menggeser Kasur, meja dan segala benda yang ada di dekatnya.

Setelah kain green screen terpasang dengan lakban. Kami mulai mengatur posisi tripod dan kamera. Dari proses pemasangan kain green screen dan pengaturan lokasi kamera, kami belajar sesuatu. Yakni sebelum dipasang kain green screen, kami perlu mengatur lokasi tripod dan kamera sesuai dengan tinggi badan kami. Wah pelajaran baru ya.

Setelah semua terpasang kami mulai shooting dan ada kendala lagi karena sinar sorotan dari jendela membuat ada bayangan dalam hasil video kami. Akhirnya kami ganti posisi. Cara kami menentukan posisi selanjutnya adalah dua orang dari kami merentangkan kain green screen trus ada yang mengambil gambar dengan HP untuk tahu apakah ada bayangan yang Nampak atau tidak. Ternyata tidak ada. Akhirnya kami memutuskan untuk memindah kain green screen.

Proses Produksi Video


Dari proses produksi video ini sejatinya kita sedang dilatih banyak hal. Utamanya tentang berpikir matematis. Karena proses produksi video memang tidak asal kita tampil di depan kamera trus taraa abakadabra langsung jadi. Ternyata ada proses pra-produksi, produksi dan pasca produksi. 

Secara tidak langsung cara berpikir matematis kita terasah meski kita lama tidak belajar matematika. Karena esensi belajar matematika bukanlah dari rumusnya menurutku namun dari bagaimana logika kita terbentuk ketika menghadapi masalah. Ketika ada soal matematika yang dalam kehidupan kita sebut masalah maka ada beberapa hal yang harus dilakukan. Apa saja itu?

Menerjemahkan
Kalau kita ketemu soal matematika maka reflek kita akan menerjemahkan maksud dari persoalan matematika itu. Menerjemahkannya dengan memahami apa maksud dari soal itu.  Begitu juga dalam proses produksi video, kita perlu menerjemahkan video apa yang ingin dibuat apakah dalam bentuk lecture, film pendek atau dokumenter.
Mengintegrasikan
Setelah diterjemahkan apa maksud dari soal maka perlu dikaitkan dengan rumus apa yang perlu dilakukan . Dalam produksi video juga setelah ditentukan jenis videonya maka kaitkan dengan langkah-langkah produksinya.

Merencanakan
Nah setelah sudah jelas memakai rumus apa maka perlu perencanaan. Kalau dalam soal matematika kita akan menulis hal-hal yang diketahui dan yang ditanyakan. Maka dalam produksi video perencanaannya adalah dengan menentukan langkah pra produksi yang meliputi pembuatan outline naskah, story board, dan peralatan yang dibutuhkan. Kemudian rencana produksi dan pasca produksi.

Melaksanakan
Nah kalau semua sudah terencana dengan baik maka langkah selanjutnya adalah mengeksekusi soal untuk menemukan jawaban. Kalau dalam produksi adalah eksekusi dari seluruh rencana yang telah dibuat.

Alhamdulillah di semarang ini selain bernostalgia dengan masa zaman kuliah juga dapat ilmu baru, cara berpikir baru, teman yang baru dan inspirasi baru. Ada banyak ide mengalir. Karena hal-hal baru membuatku semakin excited.

Berpikir matematis tidak hanya berlaku dalam shooting video saja loh namun juga dalam menghapi masalah di kehidupan sehari-hari. Terima kasih pembatik level tiga yang banyak memberi inspirasi baru. Termasuk dalam menulis postingan ini. J 

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like