Melatih Tanggung Jawab dari Sebuah Komunikasi

Pagi ini dalam perjalanan menuju sekolah tempatku bekerja ada mood buruk yang menggelantung. Namun, mood buruk itu menghilang ketika sampai di sekolah. Sesampainya di sekolah aku disambut muka ceria dan menenangkan dari anak-anak.

“Wah ustadzah pake baju ungu ya?” Tanya Nasywa, salah seorang murid yang selalu ceria menyambutku.

“Nggak mba nasywa, ini ustadzah pake jaket warna ungu.” Jawabku

“Wah ustadzah kedinginan ya? Ayo sini aku peluk? Ayo siapa yang mau peluk ustadzah lala.”Ajak Nasywa ceria sambil mengajak teman-temannya untuk memelukku.

Nasywa pun mendekat padaku, memelukku dan teman-teman yang lainnya ikut memelukku.

Masya Allah pelipur bad mood sesimpel itu.

Baru saja mood baik muncul namun muncul hal lain yang berpotensi menimbulkan mood buruk.

Tiba-tiba kelas kotor karena sterefoam yang berceceran dimana-mana di kelas.

Aku menghela nafas, dan yang lain bilang kalau mba zayya yang mengotorinya.

“Mba zayya, ayo sayang ustadzah pengen liat kelasnya bersih lagi.” kataku

Mba Zayya hanya tersenyum dan bergegas mengambil sapu dan menyapu, meski tidak tuntas 😀

Oke poinnya adalah gak boleh langsung marah-marah kalau anak mengotori ruangan, ajak dia untuk bertanggungjawab.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like