Menemukan Jati Diri Kembali dengan Mengenali Inner Child Bersama Ruang Pulih

menemukan jati diri

Pagi ini langit tak begitu ceria, tapi juga tak begitu murung. Hawanya perpaduan dingin dan hangat yang menyambut pagiku. Untunglah dinginnya pagi ini tak seperti hari-hari lalu yang mana air saja terasa seperti es yang dicairkan.

Setelah lulus dari bangku perkuliahan dengan jurusan Statistika Undip, aku menuruti keinginan ibuku untuk kembali ke desa. Ibu bersama teman-temannya mendirikan sebuah TK Islam Terpadu bersama para relawan yang turut serta ikut dalam membantu menangani korban tanah longsor di Kecamatanku.

“La, dengan kamu menjadi guru TK maka kamu punya bekal untuk kelak menjadi seorang ibu. Kamu juga bisa dapat amal jariah dengan mengajarkan surat Al Fatihah kepada anak-anak dan jika anak-anak itu mengamalkannya seumur hidup dalam sholatnya maka kamu telah panen banyak pahala.” Itulah kalimat dari ibuku yang meyakinkanku untuk kembali ke desa yang dingin ini.

Padahal seperti biasa anak muda ini masih idealis dan punya ambisi untuk merantau dan meraih asa. Namun, atas dasar berbakti pada orang tua dan mengabdi ke desa kutinggalkan panggilan wawancara perusahaan idaman hampir setiap lulusan di jurusanku.

Tahun 2021 menjadi empat tahun perjalananku di TK ini. Awalnya ibuku meminta hanya satu tahun, tapi berlanjut. Pada tahun 2021 pula aku memutuskan untuk resign.

Sebuah keputusan yang sangat didukung oleh suami karena sudah cukup rasanya aku di TK dan ini saatny untuk kembali memperhatikan kebutuhan diri dan menggapai impian.

Saat aku menjadi guru TK ada rasa galau yang entah kemana menyerang. Galau seperti selalu mempertanyakan apakah ini tempat yang tepat buatku? Terkadang ada keinginan juga untuk seperti teman-teman lainnya di jurusan yang berkarir sesuai dengan keilmuannya. Apalagi masalah penghasilan sungguh jauh panggang dari api.

Juni 2021 akhirnya aku resign karena memutuskan untuk menjalani apa yang menjadi impianku. Aku bekerja di sebuah perusahaan konsultan sebagai content writer dan kerjanya full time remote.

Aku senang karena budayanya, cara kerjanya, itulah yang aku inginkan. Namun, kenapa ada perasaan yang menghantui?

Perasaaan bahwa seakan-akan keluar dari TK adalah hal buruk.

Perasaan seperti profesi terbaik adalah menjadi guru TK.

Perasaan itu muncul seperti menyalahkan keputusanku untuk resign. Seperti keputusanku selalu salah dan keputusan dari orang tua adalah yang terbaik.

Aku adalah tipe anak penurut dan yang selalu mengikuti kemauan orang tua. Hal ini membawaku pada kesulitan untuk mengambil keputusan. Entah kenapa jika ada momen pengambilan keputusan, alam bawah sadarku selalu mengajakku untuk bertanya kepada ibu dulu.

Pagi ini aku merasakan pikiranku terlalu penat. Aku dan suami berjalan-jalan jogging hampir sekitar 2 km.

“Mas, kenapa ya lala pengen bisa kerja di perusahaan yang top? Dari dulu lala pengen kerja di perusahaan multinasional atau startup yang terkenal. Apalagi profesi dari jurusan lala yakni data analyst, data science sangat dibutuhkan sekali saat ini.”

Suamiku menjawab, “Ya, adek kan nanti bisa bikin tim yang ahli di analisis data.”

“Bukan itu maksud adek. Ih mamas kok gak ngerti sih.”

Tiba-tiba aku merasa jadi tidak mood untuk melanjutkan percakapan itu.

Aku mencoba menarik nafas dan menghembuskannya berulang kali untuk mencoba menyadari perasaan apa yang sedang terjadi dalam diri seperti yang diajarkan dalam parade inner child bersama Ruang Pulih.

Aku mencoba menenangkan diri dengan melihat hijau yang menghampar di sebelah kanan dan kiriku.

Kenapa aku? Kenapa percakapan ini seakan mendorongku untuk menelusuri lorong kisah masa lalu?

Aku mencoba merasakan apa yang sedang perasaan ini rasa. Kenapa tiba-tiba muncul memori tentang sebuah momen di mana orang tua sering memberikan bandingan agar memotivasiku untuk bisa berprestasi.

Aku jadi seolah merasa bahwa selama ini aku ingin selalu bisa bersekolah di tempat terbaik, mendapatkan hasil lomba dengan juara terbaik, kerja di tempat terbaik, pokoknya segala sesuatunya ingin serba terbaik, itu karena aku ingin membuat orang tuaku bangga.

Namun, karena selalu ingin mengejar kesempurnaan agar bisa diterima oleh orang tua membuatku sering mengalami kegagalan yang kadang membuat orang tuaku kesal juga. Seperti dulu suka ikut lomba dan selalu kalah.

Orang tuaku merasa kesal kenapa setiap ikut lomba kok kalah terus.

Pagi ini aku serasa melihat diriku yang kecil sedang minta dipeluk dan minta untuk diterima oleh orang tua apa adanya. Bukan karena aku hebat lantas aku diterima.

Mengingat itu semua aku menangis. Ya, aku menangis di pinggir jalan sembari terus melangkahkan kaki bahkan aku sempat merasa kesal dengan suami yang tak memahami apa yang aku rasa.

Menangis membuatku lega. Aku teringat apa yang aku pelajari dari parade inner child bersama ruang pulih. Beruntung aku ditemukan sebuah wadah yang membantumu untuk mengenali inner child dan membantu kembali menemukan jati diri.

Aku seakan pelan-pelan menemukan apa yang membuatku menjadi orang yang kurang PD, ragu-ragu dan kadang rendah self-esteem.

Aku ingat bahwa aku perlu menyadari dan merasa luka inner child-ku. Aku tak ingin menyalahkan dan menuntut pihak eksternal untuk bertanggung jawab atas semua yang kurasa ini.

Teringat sekali apa kata Mbak Fena Wijaya, salah seorang pembicara dalam parade innerchild ini bahwa kebahagiaan kita adalah tanggung jawab kita. Jangan menuntut pihak luar untuk bertanggung jawab atas kebahagiaan kita.

Kalau kata Mas Adji Santosoputra, kebahagiaan itu tak sama dengan kegembiraan. Kebahagiaan itu dimana kita bisa merangkul kebahagiaan dan kesedihan dengan bijaksana, bukannya mengusir kesedihan.

Aku tertarik sekali ikut parade inner child ini karena aku merasa selalu terganggu dengan perasaan kurang PD dan sepertinya ada hal di masa lalu yang membuatku seperti ini.

Aku kemudian mulai mengingatkan diri bahwa aku bukannya sedang bermasalah, kalau mengatakan sedang bermasalah maka aku mencari apa yang salah. Ketimbang mengatakan bermasalah maka gantilah dengan merasakan.

Ya, diri kita sebenarnya adalah cinta. Namun, kadang diri ini selalu merasa kekurangan karena proyeksi yang orang lain berikan kepada kita.

Kita bahagia dengan potensi diri, tapi tiba-tiba orang lain datang dan membandingkan kita dengan orang lain, itu membuat kita merasa ada yang kurang.

Alhamdulillah selama 6 bulan ke depan aku akan dibersamai untuk mengenali dan menyembuhkan innerchild-ku yang terluka.

Keep stay tuned di blog ini untuk mengikuti perjalananku menemukan jati diri sejati. Keluar dari perasaan tidak PD yang selalu menghantui.

Selamat berproses untuk pulih!

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like