Pasar Rengrang Wisata Dawuhan, Hadirkan Pengalaman Bersantap Kuliner Tradisional di Pinggir Sungai

 

Sudah pada tahu belum nih objek wisata banjarnegara terbaru ? Pasar Rengrang Wisata Dawuhan Kecamatan Wanayasa itulah objek wisata banjarnegara terbaru yang akan aku ceritakan. 

“Dek, kita kayaknya butuh refreshing nih, tiap hari kita ngajar anak-anak, nulis, belajar online, momong salman. Rasanya kita butuh waktu buat refreshing.” Ucap suamiku sabtu sore kemarin.

Wah, suamiku tahu saja kalau aku ingin refreshing banget. 

“Yuk refreshing besok mas, hanya kita berdua. Couple time yuk.” Ajakku

“Hayuk, tapi mau kemana dek?”

“Hmm, ke wisata dawuhan aja yuk mas, kata ibu disana ada pasar kuliner.”

“Hayuk, besok ya.”

Pernah nggak sih kalian merasa burn out dengan rutinitas aktivitas sehari-hari? Nah, aku dan suami sedang mengalaminya. Makanya kita butuh refreshing. 

Semenjak pandemi ini aku dan suami kudu pintar bagi waktu. Kegiatan suami pagi sampai siang hari mengajar tahfidz, sedangkan aku pergi home visit atau stay di sekolah. 

Setelah selesai mengajar kami secara bergantian atau bersama mengasuh Salman hingga Salman tertidur di malam hari. 

Barulah malam hari kami mengerjakan projek menulis sebagai freelance content writer dan ghost writer. Buat kalian yang butuh jasa penulis macam content writer atau ghost writer bisalah sama aku. Hihi. 

Aku dan suami baru bisa free satu hari penuh ketika hari minggu. Nah, hari minggu ini tanggal 9 Agustus 2020, aku dan suami memutuskan untuk berkunjung ke wisata dawuhan yang ada di Desa Dawuhan Kecamatan Wanayasa. 

Setengah sepuluh pagi kami berdua berangkat tanpa Salman. Salman dititipkan pada mba yang bekerja di rumah. 

“Terakhir kali berpetualang berdua kayak gini kapan ya dek?” Tanya suami ketika di perjalanan.

“Haha udah lama banget ya mas.”

Meski sudah punya anak, tetep penting loh untuk menyediakan waktu untuk couple time. Biar semakin kuat chemistry antara suami dan istri #eaa

Perjalanan dari rumahku yang ada ada di Karangkobar menuju Desa Wisata Dawuhan hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit. 

Sesampainya di seberang pintu masuk Desa Wisata Dawuhan, ada seorang hansip yang langsung dengan tanggap membantu kami untuk menyeberang. Wah, kesan pertama yang mengesankan!

Motor kami pun masuk ke area Desa Wisata Dawuhan dan berhenti di depan seorang perempuan berkerudung yang memberikan kita tiket parkir dan juga kertas bertuliskan nomor 34. 

“Kertas dan nomornya jangan sampai hilang ya.” Pesan si mbak tadi.

Kami hanya menganggukkan kepala. Motor kami laju kembali menuju area parkir motor dan melewati jembatan bambu yang kokoh dilewati motor dan juga jalan setapak. 

Sesampainya di parkiran ternyata sudah banyak motor yang terparkir disana. 

Setelah memakirkan motor, maka kami berjalan menuju area inti desa wisata dawuhan ini. 

Suasana pedesaan alami, hamparan sawah yang ada di samping kananku sungguh memanjakan mata. Gemericik aliran sungai panaraban pun semakin membuat telinga ini termanjakan. Suara gemericik airnya membuat hati tenang.

Ah, sungguh tempat terbaik untuk refreshing. 

Dari parkiran motor, kami berjalan turun. Dari atas sudah terlihat pemandangan manusia yang begitu antusias untuk menikmati segarnya air di kolam renang Desa Wisata Dawuhan Kecamatan Wanayasa. 

Warna air kolam renang yang biru segar, ditemani pemandangan sungai panaraban membuat hati terhibur dan tersegarkan kembali. 

Desa Wisata Dawuhan
Desa Wisata Dawuhan 

Sepanjang perjalanan menuju loket pembayaran tiket desa wisata dawuhan, kami disuguhi pemandangan warna-warni, ada bunga bougenvile yang ditata indah, ada daun berwarna-warni yang dibentuk menjadi kata ‘wisata dawuhan’. 

Oh ya, karena masih masa pandemi, Desa Wisata Dawuhan ini tetap mengikuti protokol kesehatan loh. Ada petugas yang bertugas untuk mengecek suhu badan setiap pengunjung.

Pengecekkan Suhu Badan

Alhamdulillah tadi suhu badanku dan suami 36 derajat, jadi boleh masuk deh. 

Nah habis itu kita menuju ke loket pembayaran. Kami membayar uang sepuluh ribu sebagai tiket. Uang dari tiket ini akan digunakan untuk pembangunan Desa Wisata Dawuhan ini. 

“Dengan sepuluh ribu ini anda bebas mau renang atau tidak silahkan.” Kata seorang penjaga tiket. 

Berjalanlah kami berdua dan mata kami mencari dimana letak pasar rengrang yang ibu maksud.  Kami berjalan mengikuti jalan yang ada hingga sungai panaraban terlihat jelas di depan mata kami.

Pasar Rengrang
Pasar Rengrang 

“Mana pasar rengrangnya ya mas?” Tanyaku mencari-cari.

Eh, ternyata pasarnya ada di sisi kiriku. Nah, ada keunikan loh di pasar rengrang ini. Salut banget deh sama yang bikin konsepnya. 

Jadi sebelum masuk ke area kuliner, kita diminta untuk menukarkan uang kita dengan koin yang terbuat dari kayu.

Satu koin kayu setara dengan uang Rp. 2000. Tadi aku hanya menukar uang Rp. 20.000 untuk 10 koin dan ternyata aku kalap pemirsa. Haha. Aku menukar 10 koin kembali. Jadi total uang yang aku habiskan saat di pasar rengrang ini sebesar Rp. 40.000

Koin kayu sebagai alat tukar 

Menurutku ini marketing yang unik. Harga makanan di pasar rengrang ini dihargai dengan koin kayu. Misalnya satu porsi nasi bakar dihargai 4 koin. 

Pembayaran dengan koin kayu ini membuat semua makanan yang ada di pasar rengrang itu murah harganya. Sehingga efek bagi pembeli sepertiku adalah 

“Ah murah banget, mau jajan lagi ah.” Seketika tanpa sadar jadi kalap. wkwk. 

Ketika di loket penukaran koin aku bertemu dengan temanku saat SMA yang kebetulan tinggal di Desa Dawuhan. Jadi, pergi ke pasar rengrang bukan hanya buat refreshing tapi bisa juga bersilaturahmi dengan teman. 

Saat menukar koin, aku melihat gubug-gubug penjual makanannya. Kok rame banget ya pada pake pakaian kebaya. Eh, ternyata mereka penjualnya. Haha. 

Penjual Berpakaian Kebaya

Ketika selesai menukar koin, kami langsung masuk ke area pasar rengrang. Pintunya unik, berbentuk seperti segitiga. Keren yang buat pintunya eh.

Keramahan penjualnya sudah terasa, ketika kami mendekat ke gubug-gubug yang menjual beraneka ragam makanan tradisional. Semacam surga makanan tradisional. 

Kebanyakan makanan tradisional disini mayoritas ada yang berbahan dasar dari singkong. Disana ada beraneka jajanan pasar hingga makanan tradisional.

Aneka jajanan dan makanan tradisional

Hal yang membuatku salut adalah di pasar ini NO PLASTIC ALLOWED. Tidak ada plastik, penjual membungkuskan makanan untuk pembeli menggunakan daun. 

Baca Juga : The Pikas Lebih Dari Sekedar Rafting

Saat aku membeli nasi bakar saja bungkusnya menggunakan daun salak. Wah salut banget pokoknya. Back to nature and Safe nature juga.

Dibungkus daun salak

Nggak kebayang juga sih kalau ada plastik, pasti kalau orangnya bandel nanti plastiknya dibuang di sungai panaraban. Wah bisa mengotor-ngotori dong. 

Selain nggak pake plastik, ada  hal unik lainnya loh. Apa itu? Kalau kamu pecinta kopi, disini juga ada kopi. Hal yang membuat unik adalah kopinya tidak pake gelas kaca namun menggunakan gelas dari bambu.

Wah, rasakan nikmatnya menyesap kopi dari gelas bambu sembari menikmati gemericik sungai panaraban. Beuh, perpaduan yang cocok. 

Gelas dari Bambu

Meskipun konsep pasarnya adalah pasar tradisional namun ada nilai modern-nya loh. Nilai modern-nya adalah adanya tempat duduk dimana warga bisa duduk dan berkenalan dengan pengunjung lainnya. Kayak konsepnya starbuck. Keren ya. 

Kayak aku dan suami tadi, kita nyari tempat duduk yang kosong dan tidak panas tapi belum juga ketemu. Akhirnya kita nimbrung ke kursi yang sudah ada orangnya, kita jadi kenal orang baru deh. 

Tadi niatnya couple time, eh tapi jadi ketemu banyak orang. Ini jadi menambah energiku bisa bertemu dengan orang baru. 

Bertemu teman 

Aku akui keren banget kekompakan warga Desa Dawuhan Kecamatan Wanayasa ini. Jadi penjual makanan disini itu berasal dari perwakilan RT yang ada di Desa Dawuhan. Kurang lebih ada 12 RT dan juga perwakilan dari PKK Desa Dawuhan yang ikut berjualan.

Tadi bener-bener rame banget pengunjungnya. Sepertinya masyarakat pada ingin refreshing setelah lama di rumah saja. 

Ternyata Pasar Rengrang ini barusaja diresmikan minggu lalu. Pasar ini buka setiap hari minggu mulai jam 08.00 sampai dengan jam 13.00.

Spot Pasar Rengrang ini juga instagramable banget, buat kamu yang suka selfie, bisa banget!

Pasarnya ada di samping sungai panaraban persis, bikin betah banget untuk menikmati makanan dan berkumpul bersama dengan orang tercinta.

Sungai Panaraban

Buat yang bawa keluarga, sembari menunggu anggota keluarga lain berenang bisa sambil bersantap di pasar rengrang wisata dawuhan.

Puas banget deh tadi main kesana. Bisa diagendain nih tiap minggu kesana :D. Inspirasi nulis bisa wuzzz cepat deh kalau disini hihi. 

Nah, itulah objek wisata banjarnegara terbaru. Ayo berkunjung dan berwisata kuliner di Pasar Rengrang Desa Wisata Dawuhan Kecamatan Wanayasa. 

0 Shares:
4 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like