REVIEW BUKU SEHARI BERSAMA PENULIS

SEHARI BERSAMA PENULIS
penulis : pusat data dan analisa tempo
Penerbit : tempo publishing
Tahun terbit : 2019
Tebal halaman : 131

tentang apakah buku ini?

Buku ini menarik karena menceritakan tentang apa yang dilakukan penulis dalam satu hari. Penulis yang diangkat kisahnya disitu adalah Haidar Bagir, Clara NG, asma Nadia, Ahmad Fuadi, Fira Basuki, radar panca Dahana, Ahmad Tohari, Joko Pinurbo. Delapan penulis itu adalah penulis yang sudah terkenal di Indonesia. Sebenarnya masih banyak penulis handal lainnya tapi aku juga tak tahu mengapa hanya 8 penulis tersebut yang diulas dalam buku ini.

Dalam buku ini penulis menuliskan keseharian yang dilakukan ke delapan penulis tersebut. Ceritanya ditulis secara runtut bahkan ditulis waktu dan tempat kejadiannya. Cerita ditulis secara kronologis misalnya:

Pukul 09.30 WIB, Restoran Sate Maranggi, Halim, Jakarta Timur

Tulisan di buku ini menceritakan apa yang dilakukan ke delapan penulis pada hari dimana  tim penulis tempo mengunjunginya, mulai pagi hingga sore menjelang malam.

Selain aktivitas kedelapan penulis yang dituliskan dalam buku itu selama sehari maka yang lebih penting lagi adalah dalam buku tersebut diceritakan secara singkat sejarah mereka terjun di dunia kepenulisan, proses kreatif mereka dalam menulis, hingga nilai-nilai kehidupan dari kedelapan penulis yang membuat mereka tetap terus produktif berkarya.

Membaca buku ini seolah kita seperti sedang mengikuti dan benar-benar berada dekat dengan keseharian penulis karena tulisan dalam buku ini ditulis dengan gaya story’ telling yang membuat pembaca terhanyut membaca kisahnya.

Layout tulisannya pun tak membuat mata lelah membaca justru membuat pembaca bisa membaca lebih cepat karena satu paragraf tidak terlalu rapat kalimatnya. Satu paragraf terdiri mulai dari 2-3 kalimat saja. 

Dengan layout yang tidak terlalu rapat membuatku bisa menghabiskan membaca buku ini dalam waktu kurang lebih satu jam saja lewat aplikasi ipusnas. Wow menarik bukan?

Siapa yang direkomendasikan untuk membaca buku ini?

Kalau menurutku buku ini sangat kurekomendasikan untuk mereka yang ingin menjadi penulis sekaliber kedelapan penulis tersebut.

 Kapan aku selesai membacanya?

Aku membaca di awal tahun 2020 mulai pagi sebenarnya namun hanya sekilas trus kemudian aku lanjutkan di siang hari kala bayi mungilku tertidur. Aku membaca pukul 14.00 WIB – 15. 00 WIB.

Dimana aku bisa mendapatkan buku ini?

Aku membaca buku ini lewat aplikasi kesayanganku yakni ipusnas. Aplikasi milik perpustakaan nasional RI. Disini banyak sekali koleksi ebook yang menarik dan enak dibaca.

Mengapa aku membaca buku ini?

Aku membaca buku ini karena aku merasa di awal tahun baru butuh asupan semangat untuk menjalani hari-hari ke depan. Terlebih dengan peran baruku sebagai ibu yang baru berjalan selama tiga Minggu ini.

Aku ingin walau aku sudah menjadi ibu namun masih ada waktu untuk terus menjalani hobiku yakni membaca dan belajar serta aku ingin terus berkarya.

Alasan lain adalah bahwa fokus tahun ini adalah tahunnya untuk menulis, menulis dan menulis maka aku rasa buku ini cocok untuk menaikkan level semangatku.

 Bagaimana kesan kamu membaca buku ini?

Kesannya terinspirasi sekali ya. Rasanya kayak berada bareng sama penulis.  Seringkali kita melihat kesuksesan penulis hanya diluarnya saja padahal jauh sebelum mereka sukses, ada banyak hal yang bisa dipelajari.

Seperti asma nadia kesuksesannya menulis karena dilandasi niat bahwa tulisannya didedikasikan untuk membuat perempuan2 di Indonesia itu tangguh dan kuat.
Seperti Ahmad Fuadi yang bisa bertahan dari badai kehidupannya dengan peribahasa Arab yang jadi tagline hidupnya yakni “MAN JADDA WA JADA” , siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan.
Ada kutipan menarik dari Clara NG yang perlu aku catat baik-baik yakni bahwa

“Penulis bisa menikmati pendapatan setingkat manajer apabila ia terus berkarya.” ~ Clara NG

Ada lagi nih,
“Kalau penulis ingin sejahtera serta hidup dari karyanya maka kuncinya adalah konsistensi menulis.” ~Clara NG

Ada juga nih quote yang menurutku sedikit lucu dari pak Ahmad Tohari. Baca cerita tentang Ahmad Tohari jadi flashback kalau dulu waktu SMA kurang lebih 10 tahun lalu aku pernah berkunjung dan belajar langsung pada beliau di rumahnya. Sekarang bagaimana ya kabar beliau?.

“Menulis novel atau cerpen itu memerlukan kondisi dan situasi tertentu. Misalnya, saat menulis tak terbebani masalah lain. Karya-karya saya lahir ketika saya belum terbebani dengan biaya SPP anak-anak.” ~ Ahmad Tohari.

Nah itulah review milikku tentang buku sehari bersama penulis. Sudahkah kamu membaca buku hari ini? Buku apa yang kamu baca di hari pertama tahun 2020? Share yuk di komentar 🙂

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like