SEJUTA CERITA DARI ANAK TK

“Hal apa yang menarik di TK hari ini, dek?” tanya suamiku selepas sholat ashar.
Hmmm, banyak hal menarik hari ini sebenarnya 😀
Hari bersama anak-anak selalu jadi cerita menarik. Keluguan, kepolosan anak-anak membuat hidup jadi berwarna.
Mari aku ajak menyelami dunia cerita anak TK yang polos nan menggemaskan meski kadang membuat hati aduhai 😀
Mulai dari pagi ini, salah satu murid perempuanku Namanya Mba Izza, merajuk untuk minta celengan koin yang ada di lokernya untuk dibawa pulang. Aku tak lantas menyanggupi kemauannya.
Kutanyakan padanya, “Mba Izza sudah izin sama ibu belum untuk mengambil celengan ini?”
Jawaban yang diberikan Mba Izza diselingi dengan rajukan. Maka kucoba alihkan perhatiannya. Hingga seorang temannya Namanya Mba Zayya mendekat dan bilang kepadaku,
“Kalau celenganku gak mau aku ambil soalnya nanti buat bayar haji.” Ucap polos Mba Zayya dengan nadanya yang menggemaskan.
Masya Allah, anak TK tapi pikirannya melebihi orang dewasa. Menabung untuk haji. Hayo, apakah kita yang sudah dewasa sudah menabung untuk haji?
Oke itu salah satu cerita yang menarik. Lanjut ke cerita berikutnya. Hari ini sepertinya terlalu banyak drama di kelas tempatku mengajar. Tak lama berselang dari percakapan diatas tiba-tiba kutemui Mba Zayya menangis tanpa sebab. Aku mendekatinya dan mengusapkan tanganku padanya.
“Kenapa Mba Zayya sayang? Kok cemberut, padahal tadi ustadzah liat Mba Zayya itu bersemangat loh. Ada apa sayang? Yuk cerita sini sama ustadzah?” Tanyaku.
Tak ada jawaban dari Mba Zayya, ia terus menangis. Hingga beberapa menit kemudian ia mulai angkat bicara.
“Zayya pengen sama umi.” Jawabnya singkat.
“Iya sayang sebentar lagi kan ketemu umi juga.” Ucapku mencoba menenangkannya.
“Soalnya tadi malam umi piket.” Sambung Mba Zayya lagi.
Dari percakapan ini aku sedang mencoba mempraktekkan skill berkomunikasi produktif dengan anak dengan jurus *Mengganti kalimat Interogasi dengan pernyataan observasi*. Seperti yang aku pelajari dari kelas bunda sayang terkait skill komunikasi produktif dengan anak, ketimbang menanyakan,
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa aja tadi di sekolah?”gantilah dengan kalimat seperti ini
“Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya bahagia sekali di sekolah, boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

Skill ini tak hanya kucoba ketika bercakap dengan Mba Zayya. Ketika waktu makan adalagi drama, kini pemain drama tersebut ada tiga orang. Mereka meringsut ke pojokan dan tiba-tiba menangis. Kudekati mereka bertiga. Ada yang langsung gelendotan ke lenganku dan melanjutkan tangisannya.
“Kenapa sayangku, cantikku? Kok pada nangis begini? Tadi padahal ustadzah liat pada ceria. Ustadzah kangen keceriaan kalian loh.” Ucapku mencoba mencari tahu.
Ada yang menjawab, “Kangen sama ibu.”
Adalagi yang menjawab, “Soalnya pengen sama ustadzah lala.”
Kucoba mencari cara biar mereka kembali ceria lagi.
“Oalah sayangku ini, yuk makan sama ustadzah.”
Dan akhirnya mereka mau makan bersama tapi mereka merajuk mintanya di Kantor. Hmm, baiklah.
Selanjutnya ada cerita menarik lagi. Saat tidur siang. Ketika semua siswa sudah tidur tersisalah dua murid yang tidak mau tidur. Sebut saja Namanya Mas Rizan dan Mas Irgi.
Aku tanyakan, “Kenapa kok tidak mau tidur?”
Salah satu dari mereka menjawab, “Soalnya tidak ngantuk us. Semalam aku tidur jam 4 sore sampai jam 7 jadine gak liat upin ipin.”
Agak bingung juga sih, apa korelasinya ya 😀 wkwk
Kubiarkan mereka tidak tidur namun kok mereka malah agak berisik sehingga mengganggu temannya yang sedang tidur. Maka aku inisiatif memanggil Mas Rizan yang sedang berjalan-jalan di kelas.
“Mas rizan, kalau besar pengen jadi apa?” tanyaku.
“Aku pengen jadi presiden.” Jawab Mas Rizan
“Kenapa pengen jadi presiden?”
“Soalnya enak.”
“Nah Mas Rizzan insya Allah kalau sudah besar bisa jadi presiden. Mas Rizan itu orangnya pintar. Ustadzah seneng banget. Tapi kalau mau jadi presiden harus kasih contoh yang baik ya. Sekarang tidak tidur ndak papa, yang penting mas rizan tidak mengganggu teman yang sudah tidur ya, “
Mas Rizan mengangguk. Dia pun akhirnya kembali ke tempat tidurnya dan tidak gaduh seperti semula.
Ketika aku menceritakan cerita ini kepada suamiku. Suamiku memberikan tanggapan bahwa memang sebaiknya begitu, ketika kita ingin mengobrol dengan seseorang. Tanyai apa kemauannya. Apa keinginannya, cita-citanya dan berikan hal apa yang harus diperbaiki untuk bisa mencapai tujuan tersebut.
Berkomunikasi produktif itu sama saja belajar. Sungguh menyenangkan. Alhamdulillah banyak cerita dan hikmah hari ini.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like