Sexy Killer Versi Tulisan

Pernah lihat film sexy killer yang beberapa waktu lalu sempat viral di youtube?

Tenang, judulnya aja yang vulgar namun film ini bukanlah film yang vulgar. Namun film ini menceritakan tentang film dokumenter kerusakan lingkungan akibat adanya pertambangan.

Nah, pas aku baca buku si anak badai aku jadi teringat film ini. Ya Allah udah beberapa hari baca novel ini tidak selesai-selesai karena terpotong agenda lainnya.

Novel si anak badai di awalnya memang menceritakan kehidupan anak-anak yang polos, lucu, dan mengesankan di sebuah kampung nelayan. Perkampungan mereka ada diatas sungai dan keseharian mereka adalah menjadi nelayan. Untuk pergi ke pasar mereka pun harus mengunjungi pasar terapung. Uniknya dari pasar terapung adalah posisi pedagang itu tidak bisa ditebak. Kadang di ujung, esok hari pindah ke tengah, bahkan esok hari kemudian pindah lagi ke ujung yang berlawanan. Selain itu keakraban antarwarganya digambarkan dengan elok sekali.

Nah, konflik mulai muncul ketika petugas provinsi datang memaksa untuk membangun pelabuhan di atas kampung tersebut dengan dalih bahwa kampung itu tidak layak huni, orang-orangnya buang kakus sembarangan karena memang tidak ada kamar mandi. Ketika mereka ingin buang hajat maka langsung ke sungai.

Konflik makin memanas ketika warga sudah menolak pembangunan pelabuhan namun pihak pemerintah tetap memaksa untuk tetap melanjutkan proses pembangunan pelabuhan. Salah satu warga yang getol menolak pembangunan ini ditangkap dengan cara yang aneh. Warga itu adalah pak kapten yang memang terang-terangan menolak pembangunan pelabuhan dan mempengaruhi warganya agar kompak. Pak Kapten ditangkap atas tuduhan terlibat dalam kebakaran kapal lima tahun lalu. Padahal dulu saat kebakaran kapal justru pak kaptenlah yang membantu menyelamatkan kapal itu.

Setelah penangkapan pak kapten maka beberapa hari berikutnya datanglah kapal-kapal yang membawa bahan pembangunan dan juga para pekerja. Warga kampung manowa pun hanya bisa memandang dari jauh. Ketika sebuah buldoser diturunkan dari kapal ke dermaga, sang mandor meyakinkan bahwa dermaganya aman karena terbuat dari kayu ulin yang kokoh. Ketika buldoser sudah menapak di dermaga, tiba-tiba dermaganya bergetar. Orang-orang mengira bahwa itu adalah gempa ternyata tanah dermaga itu tidak kuat dan tak lama kemudian buldoser itu jatuh ke sungai.

Sang mandor tak percaya, pihak pemerintah bilang bahwa kajian struktur tanahnya layak untuk dibangun pelabuhan ternyata untuk menahan buldoser saja tidak kuat. Lagi-lagi sang mandor harus mengerjakan proyek yang sudah dimanipulasi.

Kejadian buldoser itu tak membuat proyek berhenti. Proyek pembangunan itu masih berjalan dengan dokumen kajian struktur tanah yang sudah dimanipulasi.

Membaca novel si anak badai aku seperti benar-benar menjadi masyarakat kampung manowa itu.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like