Menulis Tak Sekedar Untuk Eksis

“Kutu buku itu nggak gaul dan nggak keren.” 

Saat SD, aku sempat kesal dengan sinetron yang ada di televisi karena selalu menggambarkan sosok seseorang yang suka membaca buku dengan tampilan yang culun, kuper, pemalu, gampang di-bully, pokoknya gambaran yang ditampilkan itu gambaran yang nggak keren dan nggak gaul.
“Ih sebel banget deh, kenapa orang yang suka baca buku dikatain sebagai orang yang nggak keren.” Gerutuku dalam hati. 
“Awas ya, suatu saat aku bakal bikin tulisan dan sinetron yang menunjukkan kalau kutu buku itu keren dan gaul juga.” Ucapku dalam hati.
Pikiran itu melintas ketika aku baru saja pulang sekolah, masih menggunakan seragam merah putih dan memakai rompi merah kotak-kotak. 
“Aku pengen seluruh orang tahu bahwa orang yang suka baca itu keren.” janjiku dalam hati. 
Empat belas tahun berlalu dari keinginanku yang ingin menunjukkan bahwa orang yang suka membaca itu keren. Momen itu menjadi sebuah titik balik bagiku untuk menulis. 
Semenjak itu aku punya cita-cita menjadi penulis novel best seller yang terkenal dan tulisanku difilm-kan sehingga bisa merubah stigma negatif pembaca buku. 
Hobi menulisku lahir dari kegemaranku membaca. Aku suka membaca banyak hal, ibuku juga sangat mendukungku untuk cinta membaca. Dulu ketika aku ditinggal kuliah ke Jogja maka ketika pulang ke rumah hal yang selalu ibu bawakan adalah buku mengenai kisah-kisah cerita rakyat. 
Masih kuingat bukunya tipis, lebih banyak gambar visualnya dibandingkan kata-katanya. Selain membaca buku, aku juga hobi membaca koran, majalah atau tulisan apapun yang ada di bungkus jajan, tulisan yang ada di kanan-kiri ketika melakukan perjalanan dan sebagainya. 
Hari minggu menjadi hari yang selalu kutunggu, karena bapak loper koran akan menyisipkan koran suara merdeka dibawah pintu rumahku. Bukan ibuku yang berlangganan sebenarnya, yang berlangganan koran adalah sekolah SMA tempat ibu bekerja namun karena hari minggu tidak ada orang maka koran tersebut dikirimkan ke rumahku.
Menariknya di koran suara merdeka itu ada koran kecil khusus untuk anak-anak yang berjudul junior kalau nggak salah. Koran junior itu hanya terbit di hari minggu saja. Hobiku ketika ada koran junior ini datang yang kulakukan adalah mencari bagian kuis.
Alhamdulillah dua kali aku menang dan dapat hadiah mainan puzzle kayu dari suara merdeka. Selain koran junior buku kesukaanku adalah majalah bobo. 
Konten yang aku sukai dari majalah bobo adalah cerita okky dan nirmala, jadi membuat diri pergi ke dunia fantasi hihi. 
Karena majalah bobo juga untuk pertama kalinya aku mencoba menulis dan diikutkan dalam lomba. Saat itu kalau tidak salah temanya adalah tentang hemat energi. Walau belum beruntung, rasanya aku sudah merasa lega karena bisa menulis. 
Oh ya, dulu itu belum musim adanya komputer, jadi lomba tulis menulis ya ditulis dengan tangan. Menurutku seru sekali. 
Hobi menulisku berlanjut ke setiap jenjang pendidikan yang aku ikuti. Saat masih SMP dan SMA selalu menjadi bagian redaksi majalah sekolah.

Dari Menulis Hingga Silaturahmi Ketemu Ahmad Tohari

Ternyata dari menulis kita bisa tahu dunia luar dan bisa juga kenal dengan orang baru. 
Perjalanan menulisku menjadi semakin menarik ketika saat SMA dan menjadi bagian redaksi majalah sekolah bernama ‘Aksara’. 
Ada kegiatan yang aku nantikan yakni bermain ke kediaman penulis kenamaan Indonesia yakni Bapak Ahmad Tohari yang melegenda dengan karyanya yang berjudul Ronggeng dukuh paruk. 
Lokasi kediaman beliau yang ada di banyumas membuat kami mudah menjangkaunya, hanya perlu 2-3 jam perjalanan saja. 
Ketika bertandang ke rumah beliau, aku jadi tahu proses menulis yang sesungguhnya. Terutama ketika menuliskan sebuah buku. 
Untuk menghasilkan satu buku yang sangat masterpiece ternyata bukan hasil kerja keras beberapa hari atau bulan, ternyata butuh waktu tahunan. 
Apa yang membuat proses menulis buku menjadi lama? Jawabannya ada pada risetnya. Buku yang berkualitas tentunya didasarkan pada riset yang berkualitas pula.
Teringat ketika Pak Ahmad Tohari menjelaskan bahwa dulu beliau saking seriusnya riset bahan bukunya itu sampai-sampai datang ke tempat dimana para pekerja seks komersial menjajakan diri. 
Orang baik-baik main ke tempat yang tabu tentu akan menimbulkan stigma negatif, namun itulah namanya totalitas dalam berkarya. 

Mengapa Menulis Itu Penting?

“Milikilah karir yang dekat dengan ilmu, misalkan guru dan penulis.” 
Pernyataan itu aku kutip dari penulis kurniawan gunadi dan itu yang terus mendorongku untuk menulis. 
Kalau ditanya tentang hobi maka akan ada yang menjawab hobinya memasak, memanah dan sebagainya. Namun hobiku ini aneh dan baru kusadari yakni bahwa hobiku adalah belajar.
Aku suka sekali mengisi otakku dengan ilmu-ilmu baru yang relevan dengan saat ini. Ada kebahagiaan sendiri ketika aku mendapatkan ilmu yang sebelumnya belum pernah aku ketahui. 
Karena kecintaanku akan ilmu maka aku ingin memiliki karir yang dekat dengan ilmu yakni guru dan penulis. Alhamdulillah semuanya kejadian. Aku jadi penulis dan juga guru TK. 
Pernah dengar pernyataan ini, 
“Ikatlah ilmu dengan menulis.”

Sering banget kan ya kita dengar pernyataan itu, namun memang benar adanya. Jadi teringat kisah dari novelnya tere liye yakni rindu. 
Kalau nggak salah ada tokoh yangmana menghabiskan waktu perjalanan dengan menulis. Ada juga nih ulama yang saking menghargai waktunya bahkan makan saja itu dipercepat biar bisa membaca lagi, menulis lagi. Masya Allah. 
Aku merasakan benar manfaat dari menulis. Kalau sehari saja aku merasakan mood-ku naik turun dan galau tidak jelas maka itu saatnya aku untuk menulis dan mencurahkan segenap pikiranku dalam tulisan. 
Ketika aku merasakan pikiranku yang bertumpuk dengan hal-hal apa saja yang akan aku lakukan maka itu tandanya aku perlu membuka buku kecilku dan membuat daftar apa saja yang perlu aku lakukan. 
Benar saja ketika aku menulis daftar di buku kecilku itu, aku melihat bahwa tidak ada problem yang cukup berarti. Benang-benang yang ruwet di pikiranku pun sudah mulai terurai. 
Ternyata menulis itu juga memiliki manfaat dari segi kesehatan loh, menurut salah satu artikel yang ada di jurnal Advance in Psychiatric Treatment manfaat menulis itu bisa dirasakan untuk jangka panjang juga loh. Salah satunya juga bisa untuk meningkatkan suasana hati, dan bisa membantu menurunkan stress pada diri seseorang. 
Nah itulah mengapa menulis itu penting. 

5 Alasan Mengapa Aku Menulis 

Pernah nggak sih kamu jatuh cinta pada seseorang dan kamu nggak tahu mengapa bisa jatuh cinta dengan orang itu?
Pernah? 
Sebenarnya kamu selalu punya alasan mengapa suka akan seseorang, begitu juga denganku mengapa aku suka menulis.
Umumnya orang menyukai sesuatu itu karena hal yang disukai itu mendatangkan manfaat bagi dirinya. Awalnya motivasi menulisku karena aku ingin menjadi penulis terkenal. 
Namun setelah melalui proses menulis dan mengikuti banyak pelatihan aku sadar bahwa menulis bukan hanya untuk sekedar menjadi terkenal. 
Apabila motivasiku hanya ingin menjadi terkenal maka aku akan lelah sendiri. Makanya aku harus mencari alasan yang bisa menguatkanku ketika hambatan dan tantangan menulis kuhadapi.
Kini aku lebih ingin menjadi penulis profesional dibanding penulis terkenal. Dengan menjadi penulis profesional aku bisa memberikan yang terbaik pada tulisanku.  
Maka inilah alasanku mengapa menulis dan ingin menjadi seorang penulis yang profesional. 

1. Menulis Itu Sarana Refreshing

Kadang dalam hidup ini ada hal yang kita inginkan namun tidak bisa terwujud. Namun berbeda dengan dunia tulisan, apa yang kita inginkan bisa kita wujudkan di alur cerita yang kita buat. 
Jadi, ingat dulu ketika masih SMP, setiap jam istirahat aku selalu menulis cerita fiksi di buku catatanku. Aku menulis kisah yang ingin aku tuliskan. Kisah cinta ala ABG yang sesuai dengan keinginanku. Rasanya aku bisa berekspresi bebas. 
Dengan menulis seperti itu rasanya bisa menjadi sarana refreshing diri.

2. Menulis Itu Sarana Lebih Dekat Dengan Ilmu

Seperti yang sudah aku bilang bahwa aku hobi belajar maka menulis adalah salah satu caraku biar lebih dekat dengan ilmu. Maksudnya bagaimana?
Aku suka ikut pelatihan, kajian, seminar dan workshop. Setelah ikut kegiatan tersebut tentunya aku dapat insight baru dong. Nah, biar insight itu nggak hilang menguap maka perlu banget ditulis. Maka dari itu menulis bisa jadi sarana untuk kita lebih dekat dengan ilmu. 

3. Menulis Untuk Memecahkan Masalah

Pernah suatu ketika sebagai seorang wakil kepala sekolah sebuah institusi pendidikan, aku menemukan masalah yang membuat otakku berpacu makin keras. Masalah ini membuat otakku terfokus pada masalah itu saja.
Wah, kalau kayak gini nanti aku yang bisa merasa tertekan. Masalah ini perlu dicari solusinya. Maka caraku untuk mencari solusinya adalah dengan menulis. 
Ya, aku menulis apa masalahnya, apa penyebabnya, dan kemungkinan solusi apa yang bisa dilakukan. dan voila, pikiranku jadi sedikit lebih ringan. 

4. Menulis Untuk Menyembuhkan dan Menyehatkan Diri

Nah ini nih alasan terbesarku mengapa menulis. Tak bisa dipungkiri bahwa hidup manusia penuh konflik. Kalau nggak ada konflik ya nggak seru dong.
Konflik yang terjadi pun bukan hanya konflik fisik saja namun juga konflik batin. Ketika menghadapi konflik responnya hanya ada dua yakni fight atau flight. Hadapi atau kabur. 
Nah, aku paling suka ketika mengalami konflik dalam diri maka aku akan mengekspresikannya dalam kata-kata. Kata orang dengan nulis diary.
Ya, aku menulis diary dan tahukah kamu bahwa aku menulis diary sejak aku SD hingga sekarang. Ketika aku tak bisa menceritakan masalahku dengan siapapun maka buku diary adalah pilihanku untuk bercerita.
Di buku diary aku bebas bercerita apa saja tanpa perlu ada yang menghakimi. Ketika aku sedang sedih, down, merasa galau maka aku akan segera mencari buku diaryku.
Apa yang kutulis di buku diary? Tentunya aku menulis sesuai isi hatiku dan tak terikat kaidah baku. 
Kadang aku menulis nasehat untuk diriku sendiri hingga tak jarang aku meneteskan air mata.
Ajaibnya setelah menulis seperti ini aku merasa lebih ringan perasannya dan plong pokoknya.
Menulis memang jadi salah satu terapi untuk menyembuhkan dan menyehatkan diri, seperti apa yang dilakukan oleh almarhum presiden B.J. Habibie ketika ditinggal orang terkasihnya. Ia menerapi diri sendiri dengan menulis. 
Sungguh ajaib ya manfaat menulis. 

5. Menulis Untuk Bermanfaat

“Kak Lala terima kasih ya sudah nulis tentang cpns di blog. Alhamdulillah skorku bisa lulus passing grade.” 
Suatu hari ada temanku yang mengirimkan pesan diatas. Ia membaca tulisanku terkait cara mendapatkan skor tinggi di ujian SKD CPNS. 
Seneng banget rasanya ketika apa yang aku tuliskan bisa bermanfaat bahkan yang membaca tulisanku itu bisa memperoleh skor SKD lebih tinggi dari aku dan lolos ke tes SKB. 
Nah, alasan terbesarku menulis juga ingin menulis untuk bermanfaat. Aku ingin tulisanku bisa menjadi amal jariah untukku. 
Ketika apa yang aku tuliskan bisa diamalkan oleh pembaca maka otomatis menjadi keran amal jariahku yang bisa mengalir terus menerus. 
Karena alasan inilah maka aku tertarik sekali untuk menulis buku. Alhamdulillah tulisanku pernah dimuat di antologi dengan judul LDR Survival Kit yang diterbitkan oleh Penerbit Elexmedia Computindo. 
Selain itu akan segera rilis ebook-ku yang berjudul Mom’s productivity hacks yang akan diterbitkan oleh penerbit mizan. Alhamdulillah. 

Mengapa Tertarik Menulis Buku?

Bagiku buku adalah teman paling setia dalam kondisi apapun. Sekalipun kita ada di hutan belantara, tanpa ada sinyal. Maka buku akan menjadi teman setia. 
Kata guru menulisku, om budiman hakim mengatakan bahwa minimal satu buku sebelum mati. Aku sangat termotivasi dengan pernyataan ini.
Bayangkan apabila punya satu buku dan dipraktekkan ilmunya oleh ribuan orang. Maka tak terhitung amal kebaikan yang mengalir untuk kita. 
Karena hobiku membaca maka aku mencoba membranding diri dengan kemanapun aku pergi, selalu ada buku didalam tasku. Rasanya ada yang kurang kalau pergi kemana-mana tidak bawa buku. 
Kalau ditanya alasan mengapa tertarik menulis buku maka aku akan menjawab bahwa buku adalah temanku maka aku ingin membuat teman yang terbaik dalam hidupku.
Maka inilah alasanku tertarik menulis buku
1. Sebagai sarana personal branding sebagai seorang penulis profesional
2. Sebagai sarana aktualisasi diri.
3. Sarana portofolio sebagai seorang penulis profesional
4. Ingin kaya dari karya
5. Ingin punya networking yang luas dari menulis. 
itu dia alasanku. Ada lima lagi alasan mengapa tertarik menulis buku. 
Menulis bagiku adalah perjalanan yang mana kita perlu siap mengosongkan gelas untuk selalu menimba ilmu dari banyak orang. Jangan pernah puas dengan karya kita.
Baca buku lebih banyak, berkenalan dengan banyak orang dan tulislah lebih dalam agar manfaat tulisanmu bisa dinikmati ribuan bahkan jutaan pembaca.
Selamat menulis. Itu alasanku menulis. Kalau kamu apa alasan terbesarmu ingin menulis? 
NB : Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog catatan pringadi bekerja sama dengan tempo institute 
0 Shares:
2 comments
  1. Halo kak terima kasih sudah berkunjung dan mendoakan. Semoga apa yang dicita-citakan kakak dapat terwujud ya. Terima kasih juga justru dari komentar kakak, saya malah tau kalau saya menang. Sukses selalu kak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like