Aku baru saja selesai maraton episode demi episode Netflix show yang judulnya Next in Fashion. Ada dua session dan aku sudah tamat semua.
Apa yang aku dapat? Rasanya banyak proses kreatif fashion designer yang bisa kita adopsi dalam proses menulis. Emang ada hubungannya? Yuk, kita bahas.
Kamu udah nonton Next in Fashion belum? Kalau belum, aku ceritain sedikit gambaran besarnya dan kalau kamu suka tentang fashion, ini Netflix show yang. sangat aku rekomendasikan.
Sejak tahun 2015, sahabatku tahu bahwa suatu saat nanti di masa depan, aku akan jadi seorang fashion designer. Apakah sekarang kesampaian? Belum, hehe.
Kata Bao Tranchi, salah seorang finalis dari Next in Fashion Session 2 bilang kalau fashion industry adalah hobinya anak orang kaya. Dan memang benar banget!
Kalau kamu tahu berapa biaya masuk sekolah fashion designer? Buset, udah ngalahin biaya kedokteran. Dan aku sempat kepikiran ingin sekolah fashion design, tapi uangnya dari mana? wkwk. Setidaknya, dengan menonton Netflix in Fashion ini, rinduku pada impianku itu sedikit terobati.
Oke, jadi apa itu acara Next in Fashion?
Singkatnya, Next in Fashion ini adalah ajang perlombaan bagi para fashion designer untuk mendapatkan gelar Next in Fashion, uang tunai $200.000, karyanya di-launching di website fashion ternama dunia seperti situs rent the runway.
Awalnya ada belasan peserta fashion designer dari seluruh dunia yang sudah dikurasi oleh Netflix. Setiap episode akan ada tantangan dengan tema yang berbeda-beda. Para fashion designer hanya diberikan waktu 7 jam di hari pertama dan 4 jam di hari kedua. Bahkan, kadang ada tantangan yang dibikin dalam waktu 4 jam.
Setelah mereka membuat rancangan baju dan mewujudkannya sesuai dengan tema tantangannya, maka baju mereka akan dikenakan oleh model dan ditunjukan pada panggung busana (runaway).
Aku paling menunggu bagian hasilnya, tapi juga suka banget dengan proses kreatif mereka yang akan aku jelaskan dan bisa kita adopsi dalam proses kreatif kita menulis.
Hal yang unik dari Next in Fashion ini nanti akan ada minimal satu fashion designer yang terelminasi. HIks sedih. Hingga akhirnya tersisa top tiga fashion designer yang akan memperebutkan gelar Next in Fashion.
Top 5 Penilaian Juri Terhadap Karya Para Fashion Designer
Next in Fashion ini ada dua session. Session pertama ditayangkan tahun 2020 dan session kedua ditayangkan tahun 2023. Aku suka banget dengan bagaimana host-nya membawakan acara ini dan memberikan komentar akan hasil karya para fashion designer. Host yang paling aku suka itu pada Next in Fashion session 2, ada Tan France dan Gigi Hadid. Gigi Hadid cantiknya itu suka banget. Elegan!
Dari observasiku ada beberapa faktor penilaian yang membuat seorang fashion designer bisa terus bertahan dari satu tantangan ke tantangan berikutnya bahkan bisa maju mendapatkan gelar Next in Fashion. Apa sajakah itu?
1. Storytelling
Aku kaget! Ternyata membuat busana pun harus ada storytelling. Fix! Skill mahal era sekarang ini adalah storytelling dan menurutku skill storytelling ini adalah skill yang akan terus relevan karena sifat alamiah manusia itu menyukai cerita.
Selain host-nya menjadi juri, akan ada guest judge dari ranah fashion industry yang sudah terkenal di dunia dan setiap tantangan akan ada juri yang beda dan ada juri yang sama untuk beberapa kali episode.
Nah, hal yang membuatku merasa kagum adalah para juri akan bertanya pertanyaan dasar.
“Apa inspirasimu dalam membuat karya ini? Ceritakan, dong!”
Dan para fashion designer akan menceritakan konsep karyanya dengan cerita yang berbeda-beda sesuai dengan inspirasi mereka. Ada yang terinspirasi dari ayahnya, kepeduliannya akan isu lingkungan, dan banyak lagi.
Dari pertanyaan itu sang juri akan memahami kenapa si fashion designer membuat karya tersebut sehingga merasa terhubung dengan karyanya.
Selain pertanyaan itu, komentar-komentar yang aku perhatikan pun sangat menggarisbawahi pentingnya karya yang punya storytelling.
Setiap, karya mereka lewat, sang juri akan memberikan komentar.
“Wah, karya si ini , aku bisa melihat karyanya bercerita.”
Dalam konteks menulis, storytelling menjadi hal paling penting. Cerita lah yang menggerakkan orang ingin membaca tulisan kita hingga selesai.
Dari cerita pula lah yang membuat tulisan kita bisa melekat dalam benak pembaca.
Walaupun tulisan kita non fiksi, cerita akan menjadi hal yang membuat orang terhubung dengan tulisan kita.
Cerita juga lah yang membuat kita tak tergantikan dengan kecerdasan buatan. Karena kecerdasan buatan (AI) tidak punya cerita atau pengalaman seperti yang kita punya.
Kalau kamu seorang penulis, buatlah jurnal yang berisikan cerita yang terjadi di kehidupanmu. Agar apa? Agar nanti ketika kamu ingin menulis, kamu sudah punya bank cerita.
Seperti mentor menulisku yang selalu mengabadikan momen dalam hidupnya, sehingga ketika saat menulis atau mengisi sebuah seminar, ia bisa bercerita dari foto-foto tersebut.
2. Ciri Khas, They Are Looking Fashion That So You
Ini bagian menarik! Ketika si juri melihat karya fashion designer mereka selalu memberikan komentar.
“Wah, ini karya Nigel banget.”
“Ini ciri khas Bao, banget!”
Bahkan ketika karya fashion-nya bagus, tapi gak terlihat ciri khas dari si fashion designer, mereka akan kecewa dan ini juga bikin si peserta bisa tereliminasi.
Karena ciri khas akan membedakan karya kita dengan karya orang lainnya. Ciri khas ini akan berbicara ketika karya kita lewat di hadapan orang, tanpa orang melihat kita, mereka sudah tahu bahwa itu karya kita.
Wah, aku langsung membatin dalam hati. Ciri khas dalam menulis pun penting banget! Wah, lesson learned banget!
Dalam konteks menulis, ciri khas bisa dibangun dengan berbagai hal, yakni:
- Cara kita menulis atau gaya bahasa kita.
- Argumen yang kita tulis.
- Topik apa yang selalu kita bahas.
- Sudut pandang yang kita ambil.
Dan berbagai cara lainnya yang bisa dicoba.
3. Karya yang Kohesif
Ketika fashion designer sudah jadi finalis, karya-karya mereka semakin keren dan all out! Semakin membuat kepala juri pening menentukan mana yang akan mendapat gelar Next in Fashion.
Nah, penilain karya yang kohesif inilah yang menjadi penentu. Karena tantangan saat final adalah membuat mini collection.
Kalau diibaratkan dalam proses menulis, maka kohesif ini bisa kita lihat dari apakah satu paragraf ke paragraf, bab demi bab saling berkaitan dan kohesif.
4. Keahlian Pada Detail
Setiap karya dari fashion designer akan dinilai oleh juri, baik dari juri internal maupun juri tamu yang diundang.
Penilaiannya beragam, mulai dari kesesuaian baju yang dirancang dengan tema tantangannya, kerjasama dengan peserta lain bila tantangannya dalam bentuk kelompok, hingga menilai detail baju dari setiap peserta.
Terkadang waktu yang singkat, memang singkat, jadi satu tantangan biasanya dikasih waktu satu setengah hari, sehingga membuat sebuah karya kurang fokus pada detail.
Bayangkan, dalam waktu satu setengah hari, kamu diminta untuk mendesain, membuat pola, memilih bahan, memotong kain, hingga menjahitnya sendiri. Belum, kemudian ada fitting baju pada si model.
Juri akan memberi nilai lebih pada fashion designer yang bisa memberikan atensi lebih pada detail bajunya.
Dalam konteks menulis, kita pun penting untuk fokus pada detailnya. Ketika kita menulis tulisan fiksi, kita perlu fokus pada detail seperti bagaimana karakter si tokoh utama.
Jangan hanya menjelaskan karakter si tokoh utama ini baik, tapi terangkan pula kebiasaannya, cara berpikirnya, apa yang membuat ia gelisah, apa yang ia cita-citakan, dan hal lainnya yang terkadang tidak terpikirkan oleh pembaca.
Kalau dalam konteks menulis non fiksi, kita bisa menambahkan detail dengan menambahkan data atau landasan yang kuat pada setiap argumen yang kita buat.
Fokus pada detail juga bisa terwujud dalam teknik menulis kita, apakah kita bisa mendeskripsikan sebuah suasana dengan lebih detail.
5. Keahlian Teknis Mewujudkan Ide Menjadi Karya yang Indah
Saat tema tantangan diumumkan, seorang fashion designer akan memiliki banyak ide, padahal waktu yang ia punyai terbatas, sehingga kemampuan mengubah ide menjadi karya yang indah menjadi sangat penting.
Bila seorang fashion designer terlalu fokus pada ide, tanpa eksekusi maka waktunya akan terbuang percuma.
Dalam Next in Fashion, terkhusus saat tantangan tim, mereka punya banyak ide. Tim yang kurang menyelaraskan tujuan bersama akan terlihat ketika busananya sudah jadi.
Saat itu, ada dua tim dengan anggota kelompok sekitar 5 orang. Satu tim bisa menghasilkan beberapa busana yang memiliki harmoni. Sedangkan satu tim lagi beberapa busana yang dihasilkan terasa tak padu, seperti terbaca ada berbagai ide yang dicoba dipaksakan sehingga tidak jadi padu.
Dalam konteks menulis, sejatinya sama. Seorang penulis akan memiliki banyak ide untuk ditulis. Namun, karya yang indah adalah ketika kita bisa fokus untuk mengeksekusi ide yang kita punya dengan karya yang indah.
Untukmu penulis, setiap ide yang muncul, jangan kau biarkan. Masukkan dalam bank ide sehingga kamu bisa menghasilkan berbagai karya yang indah.
Dari kelima hal diatas, hal mana yang sudah coba kamu terapkan dalam proses menulismu?

