Belajar Kecerdasan Sosial dari Seorang Ibu

Ribuan hari telah dilalui.
Pelajaran hidup tersaji setiap hari melalui interaksi.
Kini saatnya untuk menyajikan pelajaran hidup itu dalam bentuk literasi.

Ribuan hari tumbuh dan besar bersama ibu tercinta.
Ada pelajaran tersirat dan tersurat yang selalu dikenang dan menjadi salah satu acuan berpikir hingga bertindak.

Kali ini aku ingin bercerita. Tentang sosok yang luar biasa dalam hidupku. Cinta yang pertama kali kukenal. Sosok itu ialah ibuku.

Ibuku bernama Sri Yuniarsih dan akrab dipanggil Ibu Sri. Beliau telah menyelami asam, segar kehidupan selama 57 tahun lamanya hingga memiliki putri dengan umur 24 tahun. Ketika mendengar kisah hidup ibu yang penuh liku dan sarat pembelajaran hidup maka aku bersyukur sekali bisa lahir dari rahim seorang ibu tangguh ini.

Selama hidup bersama ibu ada nilai-nilai yang sering secara tak disadari sedang diajarkan kepada anak-anaknya. Memang kadang diawal kami sebagai anak tak begitu menyadarinya.

Ibu memiliki jaringan pertemanan yang sangat luas dan memiliki banyak sahabat dekat yang sudah seperti keluarganya sendiri. Sejujurnya hal ini menimbulkan kekaguman kepada diriku, karena ibu dan ketiga anaknya tinggal merantau jauh dari keluarga. Namun hebatnya sahabat-sahabat dekat ibu sudah berlaku layaknya saudara.

Aku melihat bahwa sisi kecerdasan sosial ibu sangat tinggi. Karena memang sedari awal ibu memang tak suka berdiam diri saja dirumah. Ibu berprofesi sebagai guru PNS yang sekarang jam mengajarnya full day. Jam pulang sekolahnya itu sekitar jam 4 sore. Namun setelah itu ibu masih memiliki aktivitas lain kadang kumpulan PKK, Rapat yayasan, rapat pengurus BMT, pengajian dan kegiatan  sosial lainnya.

Hingga pernah ada orang yang menyatakan kekagumannya kepada ibu karena urat sosialnya itu kuat sekali.

Seperti saat hari Kamis, aku dan suamiku pergi ke Rumah Sakit Islam Banjarnegara. Jarak dari rumah ke rumah sakit lumayan jauh, perlu menempuh waktu sekitar satu jam lebih beberapa menit. Aku diantar ibu sampai ke rumah temanku yang dekat rumah sakit. Nah, ibuku pergi ke tempat MGMP Mata pelajaran sejarah. Nanti niatnya setelah ibu selesai MGMP maka ibu akan menjemputku.

Selesai bersilaturahmi di rumah teman, aku dan suami langsung ke rumah sakit untuk cek kandungan karena berhubung ada ketakutan dari bidan kalau bayiku besar karena satu bulan kenaikan berat badanku itu lima kg. Alhamdulillah setelah dicek disana semuanya aman dan normal. Usia kandunganku saat itu terhitung 31 minggu. Alhamdulillah semoga lancar dan sehat hingga persalinan.

Nah setelah selesai periksa, ibuku datang ke rumah sakit untuk menjemputku. Ibuku tidak langsung mengajak pulang namun ibu bergegas untuk menjenguk anak temannya yang sedang sakit di rumah sakit. Padahal aku rasa ibu tak terlalu kenal betul dengan anaknya itu. Namun begitulah ibuku, jiwa sosialnya tinggi. Bahkan kadang apabila ada teman yang sakit di luar kota maka ibuku pun pergi ke luar kota. Terakhir adalah ketika ibu menjenguk salah satu saudara jauh di malang. Masya Allah jarak Banjarnegara dengan Malang saja sudah jauh, apalagi ibu punya riwayat tensi tinggi.

Ya Allah semoga engkau selalu memberikan kesehatan kepada ibuku.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like